KABARPHATAS.COM, BANGKALAN – Sejumlah organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, tokoh masyarakat Madura, serta insan pers menggelar konsolidasi bersama menyikapi video viral penggusuran rumah seorang nenek lanjut usia di Surabaya. Pertemuan tersebut digelar sebagai respons atas potensi konflik sosial yang dinilai dapat meluas dan mengarah pada sentimen antarsuku.
Pertemuan diadakan di Bukit Hidayah Resort, Dusun Gunung Laok, Geger, Bangkalan, milik H. Mohammad Soleh Abdijaya. Minggu (28/12/2025).
Konsolidasi ini diinisiasi oleh tokoh Madura, H. Mohammad Soleh Abdijaya, yang juga menjabat Ketua Umum Pemuda Madura Bersatu (PMB). Pertemuan dihadiri berbagai elemen lintas organisasi, di antaranya Lembah Arasia (Lembaga Aspirasi Hukum Aliansi Rakyat Indonesia), IPPAMA (Ikatan Persatuan Putra Madura), WIB (Waktu Indonesia Bersatu), Harimau (Harapan Rakyat Indonesia Maju), Kabertana, PMB, serta sejumlah kepala desa, termasuk Kepala Desa Durin Barat, H. Nawawi.
Dalam pernyataannya, H. Mohammad Soleh Abdijaya menegaskan bahwa pertemuan tersebut dilandasi rasa keprihatinan mendalam terhadap peristiwa penggusuran yang menimpa seorang nenek berusia sekitar 80 tahun.
Ia menilai persoalan tersebut tidak dapat dipandang sebagai kasus biasa karena berpotensi memicu konflik horizontal, khususnya antara masyarakat Madura dan Jawa.
Menurut Soleh, tindakan penggusuran yang dilakukan oleh oknum bernama Yasin dengan dalih membantu rekannya, Samuel, telah disalahpahami dan ditarik ke ranah identitas suku.
Ia menegaskan bahwa Yasin bukan berasal dari Madura, melainkan dari Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Karena itu, ia meminta publik tidak menggeneralisasi peristiwa tersebut sebagai representasi perilaku masyarakat Madura.
Ia juga mengingatkan bahwa sejarah Madura tidak terpisah dari Jawa. Secara historis dan kultural, kedua wilayah memiliki ikatan kuat sejak awal peradaban.
Soleh menolak keras segala bentuk provokasi yang menggiring opini seolah-olah konflik ini merupakan pertentangan antar etnis. Menurutnya, narasi semacam itu berbahaya dan tidak adil.
“Kami tidak rela ada darah yang tumpah, baik dari saudara Jawa maupun Madura, hanya karena ulah oknum. Jangan memisahkan persoalan individu lalu menyeret nama suku,” ujarnya.
Soleh juga menegaskan bahwa organisasi kemasyarakatan tertentu yang terseret dalam narasi publik tidak serta-merta mewakili masyarakat Madura. Ia meminta agar kritik diarahkan pada individu atau organisasi yang bersalah, bukan pada identitas etnis.
Ia pun mendesak agar Yasin dan Samuel segera menyerahkan diri dan mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum demi meredam eskalasi konflik.















