KABARPHATAS.COM, SURABAYA – Kebutuhan masyarakat terhadap produk penghilang bau badan yang aman dan nyaman digunakan terus mengalami peningkatan. Aktivitas harian yang semakin padat serta kondisi cuaca panas di kawasan perkotaan mendorong kebutuhan akan produk perawatan tubuh yang tidak hanya efektif, tetapi juga memberikan rasa aman bagi penggunanya.
Melihat peluang tersebut, mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan Deorans, inovasi deodoran berbahan dasar tawas lokal yang mengusung pendekatan aroma modern. Produk ini dirancang sebagai upaya meningkatkan daya saing bahan alami lokal dalam industri deodoran.
Tim pengembang Deorans terdiri dari Raihan Syah Rafi’, Muhammad Fayyadh, Revanza Gammastyan, dan Daphni Najwa Halafendi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Salwa Dwi Putri Arditiya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Melalui inovasi tersebut, mereka berhasil memperoleh pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) pada kategori Manufaktur dan Teknologi Terapan.
Raihan Syah Rafi’ selaku ketua tim menjelaskan bahwa Deorans berawal dari keresahan terhadap penggunaan sejumlah produk deodoran yang dapat menimbulkan iritasi pada sebagian pengguna. Kandungan alkohol dalam beberapa produk deodoran disebut dapat memicu kemerahan dan rasa tidak nyaman, terutama bagi pemilik kulit sensitif.
“Kami berusaha menghadirkan deodoran alternatif yang lebih aman tanpa mengurangi fungsinya sebagai penghilang bau badan,” ujar Raihan.
Dalam proses pengembangannya, tim memilih tawas sebagai bahan utama karena memiliki sifat antimikroba yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau badan, khususnya Staphylococcus sp. Selain itu, tawas juga memiliki sifat astringen yang membantu mengurangi produksi keringat berlebih tanpa menghambat kerja kelenjar keringat secara keseluruhan.
Deorans tidak hanya dikembangkan sebagai produk penghilang bau badan, tetapi juga membawa konsep aroma modern melalui sejumlah pilihan varian, seperti kopi, stroberi, dan bubblegum. Pendekatan tersebut dilakukan untuk menyesuaikan produk berbahan alami dengan preferensi konsumen masa kini.
“Kami ingin menunjukkan bahwa deodoran berbahan tawas juga bisa tampil modern dan relevan dengan selera masyarakat saat ini,” jelas Salwa.
Produk ini menyasar kelompok masyarakat yang memiliki perhatian terhadap kesehatan dan lingkungan, terutama kelompok usia produktif dengan aktivitas tinggi, seperti mahasiswa, pekerja kantoran, hingga masyarakat yang aktif berolahraga.
Daphni menjelaskan bahwa strategi pemasaran Deorans difokuskan pada edukasi mengenai manfaat tawas sebagai bahan alami sekaligus memperkenalkan produk tersebut sebagai alternatif deodoran yang lebih ramah bagi tubuh dan lingkungan.
“Kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa bahan alami lokal memiliki potensi besar untuk menjadi solusi kebutuhan sehari-hari,” tutur Raihan.
Tim pengembang juga melihat penggunaan bahan alami memiliki potensi untuk memberikan dampak terhadap lingkungan melalui pengurangan ketergantungan terhadap sejumlah bahan kimia sintetis yang selama ini banyak digunakan dalam formulasi produk deodoran.
“Kami ingin menunjukkan bahwa bahan lokal seperti tawas tidak hanya memiliki manfaat kesehatan. Tetapi juga mampu bersaing sebagai produk inovatif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini,” pungkas Raihan.














