Lia menilai, pengalaman tersebut bisa dimaknai sebagai bentuk halusinasi positif akibat tekanan ekstrem, tetapi juga bisa dilihat sebagai simbol pertolongan ilahi.
“Apapun penjelasannya, kisah ini memberi pesan moral: ada kekuatan di luar nalar manusia yang hadir saat hati tetap berserah kepada Tuhan,” ucapnya.
Selain keteguhan spiritual, Haikal menunjukkan kecerdasan adaptif. Ia memilih tidak banyak bergerak agar tenaganya tidak cepat habis, mengingat pelajaran IPA tentang energi tubuh.
“Itu menunjukkan bahwa pendidikan pengetahuan dan pendidikan iman bisa berjalan seimbang dan saling menyelamatkan,” tambah Lia.
Dalam masa pemulihan, Haikal masih menjalani perawatan intensif. Namun semangatnya tetap tinggi. Ia bertekad melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Probolinggo dan bercita-cita menjadi seorang tentara.
“Haikal ingin terus belajar dan mengabdi. Kami telah berkomunikasi dengan pihak sekolah, dan ada respons positif, tentu menunggu pemulihan totalnya,” ujar Lia.

Senator yang dikenal dengan tagline CANTIK (Cerdas, Inovatif, Kreatif) itu menyebut Haikal sebagai contoh patriot muda beriman.
“Ia kuat mental, teguh iman, dan memiliki semangat solidaritas. Cita-citanya menjadi tentara adalah refleksi keinginannya untuk melindungi, bukan hanya bertahan,” tegas Lia.
Menurut data Basarnas, Haikal berhasil dievakuasi pada Rabu (1/10/2025) pukul 15.22 WIB sebagai korban ke-13 yang selamat. Tak jauh dari lokasinya, ditemukan korban meninggal dalam posisi sujud.
“Mereka yang wafat dalam peristiwa ini insya Allah mati syahid. Mereka menuntut ilmu dan beribadah di rumah Allah,” ujar Lia.
Pernyataan itu mempertegas makna tragedi Al-Khoziny sebagai momentum reflektif bagi bangsa: bahwa keselamatan santri bukan hanya urusan pesantren, melainkan tanggung jawab sosial bersama.
“Santri adalah pondasi moral bangsa. Menjaga mereka berarti menjaga masa depan peradaban,” kata Lia menutup pernyataannya.
Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, menyebut penyelamatan Haikal dan Yusuf sebagai momen paling dramatis dalam operasi tersebut. “Kami mendengar suaranya lemah, tapi jelas. Ia terus berzikir. Itu yang memberi semangat bagi seluruh tim,” ujarnya.
Tragedi ini tidak hanya meninggalkan luka, tetapi juga kesadaran kolektif tentang pentingnya sinergi kemanusiaan, pendidikan spiritual, dan mitigasi bencana di lingkungan pesantren. Dari reruntuhan Al-Khoziny, lahir kesadaran bahwa keteguhan iman dan kecerdasan berpikir adalah dua kekuatan yang mampu menuntun manusia keluar dari kegelapan, baik secara fisik maupun batin.
***Kabar kami lainnya di news google Kabarphatas.com















