KABARPHATAS.COM, JAKARTA – Isu reshuffle kabinet Prabowo-Gibran dan susunan Kabinet Merah Putih selalu menyertakan spekulasi nama-nama baru yang dinilai layak mengisi pos menteri strategis. Dalam beberapa bulan terakhir, salah satu nama yang mengemuka di berbagai pemberitaan adalah Danang Wicaksana Sulistya, anggota DPR RI Fraksi Gerindra dan Ketua DPD Gerindra DIY.
Sejumlah media bahkan menempatkannya dalam daftar empat alumni SMA Taruna Nusantara yang digadang-gadang masuk kabinet.
Ada beberapa faktor yang membuat DWS dianggap layak diperhitungkan sebagai calon menteri, terutama di pos-pos yang bersentuhan dengan infrastruktur, perhubungan, atau transmigrasi. Pertama, rekam jejak loyalitas dan militansinya di Gerindra.
DWS adalah bagian dari generasi awal yang ikut membangun partai sejak 2007–2008, bertahan melewati tiga kekalahan Prabowo di Pilpres, dan baru merasakan kemenangan setelah 2024. Dalam konteks politik Indonesia, konsistensi jangka panjang semacam ini relatif langka.
Kedua, kapasitas teknis dan pengalaman lapangan. Latar belakang pendidikan teknik sipil dan pengalaman sebagai kontraktor membuat DWS memahami isu infrastruktur tidak hanya dari sisi konsep, tetapi juga implementasi.
Di Komisi V, ia aktif bicara mengenai pemulihan infrastruktur pascabencana, optimalisasi program Inpres Jalan Daerah, serta pentingnya konektivitas logistik antarwilayah.
Pernyataannya yang menekankan percepatan rehabilitasi infrastruktur dasar untuk memastikan distribusi logistik dan bantuan di wilayah terdampak bencana menunjukkan sensitivitas terhadap detail teknis dan dampak langsung ke rakyat.
Ketiga, visi kebijakan yang selaras dengan agenda besar Prabowo. Dalam isu transmigrasi, misalnya, DWS mendorong agar kawasan transmigrasi tidak lagi dipandang sebagai proyek pinggiran, melainkan dijadikan lumbung pangan dan pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Ia menekankan perlunya modernisasi pertanian, dukungan infrastruktur, dan akses pasar untuk menjadikan transmigran sebagai subjek pembangunan yang sejahtera. Visi ini sejalan dengan gagasan kedaulatan pangan yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Prabowo.
Keempat, kapasitas ideologis dan komunikasi publik. Lewat podcast Gaspol! Kompas, DWS menunjukkan kemampuan menjelaskan posisi Gerindra sebagai partai yang menjadikan Trisakti Bung Karno sebagai pedoman ideologis.
Ia menjabarkan bagaimana prinsip kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian budaya diterjemahkan ke dalam AD/ART dan kebijakan konkret.
Cara bertuturnya yang sistematis dan mudah diikuti memberi kesan bahwa ia mampu menjembatani bahasa ideologi dan bahasa kebijakan secara efektif.





