Example 728x250
Pendidikan

2 Mimpi Nabil Loverino: Kuliah Kedokteran Unusa dan Berjuang di Persebaya U-20

6
×

2 Mimpi Nabil Loverino: Kuliah Kedokteran Unusa dan Berjuang di Persebaya U-20

Sebarkan artikel ini
Nabil Unusa

KABARPHATAS.COM, SURABAYA –  Pagi hingga siang hari, Nabil Loverino Misab menjalani kehidupan sebagai mahasiswa kedokteran. Ia menghadapi jadwal kuliah, praktikum, dan berbagai tuntutan akademik yang menjadi bagian dari perjalanan barunya di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).

Namun ketika sore tiba, rutinitasnya berubah. Nabil kembali mengenakan perlengkapan latihan dan memasuki lapangan sebagai pemain Persebaya U-20.

Bagi sebagian orang, menjalani pendidikan kedokteran sambil mengejar karier sepak bola mungkin menjadi dua pilihan yang sulit disatukan. Tetapi bagi Nabil, keduanya merupakan bagian dari perjalanan yang ingin tetap ia jalani.

Mahasiswa baru S1 Kedokteran Unusa tersebut memilih untuk tidak meninggalkan salah satu dari dua dunia yang telah membentuk dirinya. Ia ingin tetap mengejar mimpi di lapangan hijau, sekaligus mempersiapkan masa depan melalui pendidikan kedokteran.

Nabil saat ini menjadi bagian dari Persebaya U-20. Ia biasa bermain sebagai sayap kanan dan juga dapat mengisi posisi penyerang. Perjalanannya di sepak bola dimulai sejak usia sembilan tahun ketika ia mulai bermain bersama teman-temannya.

Dari pengalaman bermain sederhana, ketertarikannya terhadap sepak bola semakin berkembang. Nabil kemudian mengikuti Sekolah Sepak Bola (SSB) di Surabaya hingga akhirnya masuk dalam pembinaan Persebaya sejak usia 13 tahun.

“Dari umur 13 sudah masuk Persebaya,” ujar Nabil.

Meski kini sepak bola menjadi bagian penting dalam kehidupannya, perjalanan tersebut tidak selalu mendapat dukungan penuh sejak awal. Di lingkungan keluarga, sepak bola pada mulanya masih dianggap sebagai kegiatan hobi.

Keluarga Nabil justru memiliki latar belakang kuat di bidang kesehatan. Ayahnya merupakan analis kesehatan, sementara dua kakaknya berprofesi sebagai dokter. Kakak pertamanya merupakan dokter spesialis kandungan, kakak keduanya dokter umum, sedangkan kakak ketiganya berprofesi sebagai guru.

Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara sekaligus satu-satunya anak laki-laki, Nabil memahami adanya harapan besar keluarga terhadap masa depannya. Ia kemudian diarahkan untuk melanjutkan pendidikan kedokteran seperti kedua kakaknya.

“Pertamanya saya juga terpaksa. Tapi lama-lama sudah dijelaskan kalau kedokteran itu enak karena jenjangnya panjang, daripada main bola,” tutur Nabil.

Seiring perjalanan waktu, pandangan Nabil terhadap dunia kedokteran berubah. Ia mulai memahami bahwa profesi dokter dapat menjadi pilihan jangka panjang yang penting bagi kehidupannya.

Menurut Nabil, karier sebagai atlet memiliki batas waktu yang tidak selalu dapat dipastikan. Kondisi fisik, usia, cedera, maupun kesempatan mendapatkan klub menjadi faktor yang dapat memengaruhi perjalanan seorang pesepak bola.

“Kalau atlet sampai umur 30, kalau tidak jadi main bola kan pensiun. Mikir jenjangnya, kalau dokter kan panjang,” katanya.

Pemikiran tersebut membuat Nabil tidak melihat sepak bola dan kedokteran sebagai dua hal yang harus dipertentangkan. Ia memilih menjalankan keduanya dengan tetap menempatkan pendidikan sebagai prioritas.

Tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah membagi waktu. Jadwal perkuliahan kedokteran yang padat harus berjalan bersama aktivitas latihan dan persiapan pertandingan bersama Persebaya U-20.

Untuk menjaga keseimbangan tersebut, Nabil mulai membangun kebiasaan mengatur waktu sejak awal kuliah. Ia menyiapkan jadwal belajar agar kewajiban akademiknya tetap dapat terpenuhi.

“Saya sudah siapkan jadwal belajar. Kalau misalnya tugas, saya sudah bagi waktu,” ujarnya.

Menurut Nabil, jadwal latihan yang berlangsung pada sore hari cukup membantu karena tidak banyak berbenturan dengan kegiatan perkuliahan. Dalam waktu dekat, ia masih akan menjalani latihan intensif karena mendapat jadwal pertandingan.

Bagi Nabil, perjalanan sebagai mahasiswa kedokteran dan pemain sepak bola masih dapat berjalan bersama. Ia ingin melihat sejauh mana kedua jalur tersebut bisa berkembang tanpa mengabaikan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa.

Selama sepak bola tidak mengganggu kewajibannya di kampus, Nabil masih ingin terus bermain dan membuka peluang untuk melanjutkan karier hingga jenjang senior.

Di antara ruang kuliah dan lapangan sepak bola, Nabil kini menjalani dua rutinitas yang sama-sama menuntut disiplin. Ia belajar tentang ilmu kedokteran di kampus, sekaligus terus mengasah kemampuan sebagai pemain muda Persebaya U-20.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *