Example 728x250
Pendidikan

Mahasiswa Unusa Sulap Limbah Kulit Buah Jadi SMARTFOAM, Pembersih Sepatu Ramah Lingkungan

3
×

Mahasiswa Unusa Sulap Limbah Kulit Buah Jadi SMARTFOAM, Pembersih Sepatu Ramah Lingkungan

Sebarkan artikel ini
UNUSA

KABARPHATAS.COM, SURABAYA –  Tumpukan limbah kulit buah yang selama ini dianggap tidak bernilai justru menjadi sumber inspirasi bagi lima mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K), mereka menghadirkan SMARTFOAM, inovasi pembersih sepatu berbentuk foam yang memanfaatkan eco-enzyme dari limbah organik.

Produk tersebut dikembangkan untuk menjawab dua persoalan sekaligus, yakni kebutuhan masyarakat terhadap pembersih sepatu yang praktis serta upaya mengurangi limbah organik. Berbeda dari produk pembersih sepatu konvensional, SMARTFOAM dirancang agar dapat digunakan tanpa perlu tambahan air dalam proses aplikasinya.

Tim pengembang SMARTFOAM terdiri atas Baroatus Silmi, Dhurrotun Nafisah, Naily Zakiyatul K, Sania ‘Ainiyati, dan Ahda Dini Salsabila, mahasiswa Program Studi Manajemen Unusa. Dalam pengembangan inovasi tersebut, mereka mendapat bimbingan dari Dr. Rudi Umar Susanto, S.Pd., M.Pd.

Ide pembuatan SMARTFOAM berawal dari perhatian terhadap limbah kulit buah yang masih belum banyak dimanfaatkan. Limbah tersebut kemudian diolah melalui proses pembuatan eco-enzyme sebelum dikembangkan menjadi salah satu komponen utama produk pembersih sepatu.

Dalam formulanya, SMARTFOAM menggunakan eco-enzyme yang dipadukan dengan methyl ester sulfonate, air, NaCl, dan essential oil. Bentuk foam dipilih karena dinilai lebih mudah digunakan serta mampu memberikan kepraktisan bagi pengguna dalam membersihkan sepatu.

Ketua tim SMARTFOAM, Baroatus Silmi, mengatakan pengembangan produk tersebut didorong oleh kebutuhan akan perawatan sepatu yang lebih praktis sekaligus memiliki nilai kepedulian terhadap lingkungan.

“Melalui SMARTFOAM, kami ingin menghadirkan solusi pembersih sepatu yang praktis tanpa penggunaan air sekaligus memanfaatkan limbah kulit buah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna. Kami berharap inovasi ini dapat menjadi salah satu bentuk penerapan gaya hidup berkelanjutan di kalangan masyarakat,” ujar Baroatus.

SMARTFOAM menyasar berbagai kelompok pengguna, mulai dari mahasiswa, pelajar, pekerja, komunitas pencinta sepatu, hingga masyarakat urban yang membutuhkan produk perawatan sepatu yang mudah digunakan.

Selain aspek kepraktisan, pemanfaatan eco-enzyme dari limbah kulit buah juga menjadi bagian dari penerapan prinsip zero waste. Limbah organik yang sebelumnya tidak memiliki nilai guna diupayakan dapat kembali dimanfaatkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Sebelum diperkenalkan kepada masyarakat, tim mahasiswa Unusa melakukan sejumlah tahapan pengembangan, termasuk pengujian laboratorium. Salah satu hasil pengujian menunjukkan SMARTFOAM memiliki daya hambat sebesar 25,5 milimeter terhadap bakteri Staphylococcus aureus.

Pengembangan produk dilakukan melalui rangkaian proses, mulai dari survei pasar, pengumpulan dan pengolahan limbah kulit buah, pembuatan eco-enzyme, formulasi produk, pengujian laboratorium, produksi, pengemasan, hingga pemasaran.

Setelah melalui proses tersebut, SMARTFOAM mulai diperkenalkan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan, seperti bazar, car free day di Taman Bungkul Surabaya, lingkungan kampus, media sosial, serta platform e-commerce.

Bagi tim mahasiswa, perjalanan mengembangkan SMARTFOAM menjadi pengalaman untuk membawa ide dari lingkungan akademik menuju kebutuhan masyarakat. Melalui PKM-K, mereka belajar mengenai berbagai aspek pengembangan usaha, mulai dari memahami pasar, menjaga kualitas produk, hingga mengenalkan inovasi kepada konsumen.

Baroatus menyebut timnya masih memiliki sejumlah rencana pengembangan untuk meningkatkan kualitas SMARTFOAM. Beberapa di antaranya adalah pengembangan varian aroma, penyediaan kemasan travel size, serta perluasan kerja sama dengan pemasok bahan baku.

Tim SMARTFOAM juga membuka peluang kolaborasi dengan komunitas pencinta sepatu dan komunitas lingkungan agar inovasi tersebut dapat dikenal lebih luas.

“Ke depan, kami ingin terus mengembangkan SMARTFOAM, baik dari sisi varian aroma, kemasan travel size, maupun perluasan kerja sama dengan pemasok bahan baku. Kami juga terbuka untuk berkolaborasi dengan komunitas pencinta sepatu dan komunitas lingkungan agar manfaat inovasi ini dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas,” kata Baroatus.

Pengembangan SMARTFOAM menjadi salah satu upaya mahasiswa Unusa dalam menghadirkan produk berbasis pemanfaatan limbah organik. Melalui pengolahan kulit buah menjadi eco-enzyme, mereka mencoba mengubah material yang sebelumnya terbuang menjadi produk perawatan sepatu yang dapat digunakan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *