Selain pembahasan mengenai kitab Bidayatul Hidayah, pembina Majelis Ar-Rohimin, H. Abdul Rohim, mengingatkan jamaah bahwa menjaga lisan memiliki hubungan erat dengan menjaga hubungan antarmanusia.
Menurut H. Abdul Rohim, lisan yang terjaga menjadi salah satu fondasi dalam membangun ukhuwah islamiah dan kehidupan sosial yang harmonis. Perbedaan pendapat, latar belakang, maupun keyakinan tidak boleh menjadi alasan seseorang mengabaikan adab dalam berbicara.
“Islam mengajarkan manusia untuk menjaga hubungan yang baik dengan sesama. Menjaga lisan bukan hanya kepada saudara sesama muslim, tetapi juga kepada seluruh manusia, termasuk mereka yang berbeda agama. Akhlak yang baik harus menjadi bagian dari kehidupan seorang muslim,” ujar H. Abdul Rohim dalam pesan moralnya.
Ia menjelaskan bahwa ajaran Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya.
Sikap menghormati, menjaga perasaan, dan menghindari ucapan yang menyakiti merupakan bagian dari penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut juga selaras dengan ajaran Al-Qur’an yang mendorong umat manusia untuk berkata baik dan menjaga hubungan sosial. Dalam kehidupan masyarakat yang beragam, kemampuan menjaga perkataan menjadi salah satu cara untuk menciptakan suasana yang damai dan saling menghargai.
Dalam kajian tersebut juga disampaikan kisah nasihat Luqman kepada putranya tentang keutamaan diam. Luqman berkata, “Seandainya perkataan itu terbuat dari perak, niscaya diam adalah emas.”
Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa kemampuan menahan diri dari ucapan yang tidak diperlukan memiliki nilai yang sangat tinggi. Ibnu al-Mubarak menjelaskan, apabila perkataan dalam ketaatan kepada Allah bernilai seperti perak, maka diam dari kemaksiatan kepada Allah bernilai seperti emas.
Islam sendiri memberikan ruang besar bagi manusia untuk menggunakan lisannya dalam kebaikan. Membaca Al-Qur’an, berdzikir, menyampaikan nasihat, mendamaikan orang yang berselisih, serta menyampaikan perkataan yang jujur merupakan bentuk penggunaan lisan yang bernilai ibadah.
Sebaliknya, ucapan yang berisi penghinaan, fitnah, ghibah, menyebarkan kebencian, atau membuka aib orang lain menjadi perkara yang harus dijauhi karena dapat merusak hubungan sosial dan membawa dampak buruk bagi kehidupan bersama.
Melalui kajian lanjutan tentang menjaga lisan ini, Majelis Ar-Rohimin mengajak jamaah untuk lebih berhati-hati dalam berbicara.
Sebab, kualitas seseorang tidak hanya terlihat dari apa yang ia lakukan, tetapi juga dari bagaimana ia menggunakan perkataannya dalam berhubungan dengan Allah dan sesama manusia.




