KABARPHATAS.COM, SURABAYA – Satu kalimat bisa membuat orang tersenyum. Namun, satu kalimat pula bisa membuat seseorang terluka bertahun-tahun. Bahkan, ucapan yang keluar hanya beberapa detik dapat membawa konsekuensi panjang bagi orang yang mengucapkannya.
Persoalan itulah yang menjadi salah satu perhatian dalam kajian Majelis Ar-Rohimin Surabaya, Rabu malam (9/9/2026). Pengasuh Majelis Ar-Rohimin Surabaya Habib Musthofa bin Zen mengajak jamaah lebih serius memperhatikan apa yang keluar dari lisan.
Kajian bertajuk “Menjaga Lisan: Empat Doa Nabi Dawud dan Bahaya Ucapan” tersebut mengupas posisi lisan dalam kehidupan seorang muslim. Bukan hanya soal sopan atau tidak sopan dalam berbicara, tetapi juga menyangkut konsekuensi amal.
Habib Musthofa mengutip doa Nabi Dawud عليه السلام yang memohon empat perkara kepada Allah SWT.
“اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَرْبَعَةً”
Dalam doa tersebut, Nabi Dawud memohon lisan yang senantiasa berdzikir kepada Allah, hati yang selalu bersyukur, tubuh yang sabar serta pasangan yang dapat membantu dalam urusan dunia dan akhirat.
Empat permohonan itu masing-masing berbunyi:
“لِسَانًا ذَاكِرًا”
Lisan yang senantiasa berdzikir.
“وَقَلْبًا شَاكِرًا”
Hati yang selalu bersyukur.
“وَبَدَنًا صَابِرًا”
Tubuh yang sabar.
“وَزَوْجَةً تُعِينُنِي فِي دُنْيَايَ وَآخِرَتِي”
Pasangan yang membantu dalam urusan dunia dan akhirat.
Dari susunan tersebut, lisan berada di bagian pertama. Hal itu menjadi perhatian penting dalam kajian. Sebab, lisan bisa menjadi pintu berbagai kebaikan. Tetapi sebaliknya, lisan juga bisa menjadi sumber petaka apabila tidak dikendalikan.
Dzikir, doa, membaca ilmu, memberikan nasihat dan menyampaikan perkataan yang baik merupakan bentuk penggunaan lisan yang bernilai positif.
Persoalannya, lisan juga mudah digunakan untuk sesuatu yang sebaliknya. Dusta, ghibah, fitnah, namimah, cacian hingga perkataan yang merendahkan orang lain dapat muncul dari sesuatu yang sama: lisan.
Karena itu, menjaga lisan bukan perkara sederhana.
Dalam kajian tersebut, Habib Musthofa juga menjelaskan empat perkara yang menjadi permohonan perlindungan Nabi Dawud. Di antaranya anak yang justru menjadi penghalang dalam menjalankan kebaikan, pasangan yang membuat kehidupan penuh tekanan sebelum waktunya, harta yang berubah menjadi sebab siksa dan keburukan, serta tetangga yang menutupi kebaikan tetapi menyebarkan keburukan.
Pesan yang terkandung di dalamnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Anak, pasangan, harta dan tetangga pada dasarnya dapat menjadi nikmat. Namun, semuanya juga dapat menjadi ujian apabila tidak ditempatkan dan dijalani dengan benar.
Pembahasan kemudian mengarah pada bahaya ucapan.
Habib Musthofa menyampaikan penggalan hadis:
“أَلَا يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ”
Ungkapan “حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ” atau hasil panen lisan menjadi gambaran kuat mengenai konsekuensi ucapan.


