Apa yang ditanam melalui lisan pada akhirnya akan dipanen. Ketika yang keluar adalah kebaikan, maka kebaikan pula yang berpotensi menjadi hasilnya. Begitu pula ketika yang ditanam berupa kebohongan, fitnah, ghibah dan perkataan menyakitkan.
“Jangan sampai kita merasa ucapan itu selesai setelah keluar dari mulut. Sebab, akibatnya bisa terus berjalan,” menjadi pesan yang relevan dari pembahasan tersebut.
Apalagi di era media sosial. Ucapan tidak lagi hanya berhenti di antara dua orang. Satu komentar dapat dibaca ratusan bahkan ribuan orang. Satu unggahan dapat disebarkan kembali tanpa diketahui bagaimana akhirnya.
Karena itu, perkara menjaga lisan menjadi semakin penting.
Dalam kajian itu juga disinggung syair yang dinisbatkan kepada Imam Syafi’i رحمه الله:
“احْفَظْ لِسَانَكَ أَيُّهَا الإِنْسَانُ
لَا يَلْدَغَنَّكَ إِنَّهُ ثُعْبَانُ”
Maknanya, manusia diminta menjaga lisannya karena lisan diibaratkan seperti ular yang dapat menggigit pemiliknya.
Bait berikutnya juga memberikan gambaran keras mengenai akibat ucapan:
“كَمْ فِي الْمَقَابِرِ مِنْ قَتِيلِ لِسَانِهِ
كَانَتْ تَهَابُ لِقَاءَهُ الشُّجْعَانُ”
Pesannya, seseorang yang sebelumnya dikenal kuat dan disegani sekalipun bisa menjadi korban dari lisannya sendiri.
Hal lain yang mendapat perhatian adalah kebiasaan menjadikan perkataan menyakitkan sebagai bahan candaan.
“Kan cuma bercanda.”
Kalimat semacam itu sering digunakan ketika seseorang merasa ucapannya tidak perlu dipersoalkan. Padahal, ukuran candaan tidak hanya berada pada niat orang yang berbicara. Dampaknya kepada orang lain juga perlu diperhitungkan.
Candaan yang tidak mengandung kebohongan, penghinaan atau tindakan menyakiti tentu berbeda dengan humor yang menjadikan orang lain sebagai objek untuk ditertawakan.
Sebab, seseorang mungkin tertawa di depan banyak orang. Tetapi belum tentu hatinya tidak terluka.
Kajian tersebut juga mengangkat kisah seseorang yang gugur dalam peperangan pada masa Rasulullah SAW. Saat melihat orang tersebut, ada yang memberikan penilaian bahwa ia memperoleh kabar gembira berupa surga.
Namun, Rasulullah SAW mengingatkan agar manusia tidak terburu-buru memastikan kedudukan seseorang di sisi Allah SWT.
Apa yang terlihat manusia hanya bagian luar. Amal, niat dan keadaan batin seseorang tidak seluruhnya diketahui oleh manusia.
Dalam konteks itu, pembahasan tentang lisan menjadi semakin penting. Kesalehan tidak hanya diukur dari apa yang tampak dalam aktivitas besar, tetapi juga dari bagaimana seseorang menjalani keseharian. Termasuk ketika berbicara.
Sebelum sebuah ucapan dilontarkan, ada sejumlah pertanyaan sederhana yang perlu diajukan kepada diri sendiri: apakah perkataan tersebut benar, apakah ada manfaatnya, apakah akan menyakiti orang lain dan apakah Allah SWT meridainya.
Jika jawabannya tidak jelas, diam bisa menjadi pilihan yang lebih aman.
Sebab tidak semua hal harus ditanggapi. Tidak semua informasi harus diteruskan. Dan tidak setiap perasaan harus langsung diterjemahkan menjadi ucapan.
Dalam kajian Majelis Ar-Rohimin Surabaya itu, pesan mengenai lisan akhirnya kembali pada satu hal yang sangat mendasar: kemampuan seseorang mengendalikan dirinya sendiri.
“لِسَانُكَ أَسَدٌ إِنْ أَطْلَقْتَهُ أَكَلَكَ، وَإِنْ أَمْسَكْتَهُ حَفِظَكَ”
Lisan seperti singa. Ketika dilepaskan tanpa kendali, ia dapat membinasakan pemiliknya. Tetapi ketika mampu ditahan, ia justru menjadi penjaga bagi dirinya sendiri.


