Example 728x250
Syiar Syair

Majelis Ar-Rohimin, H. Abdul Rohim Tekankan Pentingnya Memperkuat Persaudaraan Sesama

15
×

Majelis Ar-Rohimin, H. Abdul Rohim Tekankan Pentingnya Memperkuat Persaudaraan Sesama

Sebarkan artikel ini
Majelis Ar-Rohimin
Pembina Majelis Ar-Rohimin, H. Abdul Rohim (kanan) dan Pengasuh Majelis Ar-Rohimin, Habib Musthofa Bin Zein Al-Alydrus.

KABARPHATAS.COM, SURABAYA – Setiap ucapan yang keluar dari lisan manusia bukan sekadar rangkaian kata, tetapi memiliki dampak terhadap diri sendiri maupun lingkungan di sekitarnya. Karena itu, kemampuan menjaga perkataan menjadi salah satu bentuk pengendalian diri yang mendapat perhatian besar dalam ajaran Islam.

Pesan tersebut menjadi pembahasan utama dalam pengajian rutin Majelis Ar-Rohimin pada Rabu malam (16/9/2026).

Dalam kajian yang dipimpin Habib Musthofa bin Zen, jamaah diajak mendalami kembali pentingnya menjaga lisan melalui pembahasan kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Abu Hamid Al-Ghazali.

Habib Musthofa menjelaskan, para ulama dalam kitab tersebut memberikan perhatian khusus terhadap persoalan ucapan. Sebab, lisan merupakan anggota tubuh yang mudah digunakan, tetapi memiliki konsekuensi yang besar. Satu perkataan dapat membawa manfaat luas, namun satu ucapan yang tidak terjaga juga dapat menimbulkan kerusakan.

Dalam Bidayatul Hidayah dijelaskan bahwa perkataan manusia terbagi menjadi empat macam. Pertama, ucapan yang seluruhnya mengandung mudarat. Kedua, ucapan yang sepenuhnya membawa manfaat. Ketiga, perkataan yang memiliki unsur manfaat sekaligus mudarat. Keempat, perkataan yang tidak membawa manfaat maupun mudarat.

Perkataan yang mengandung keburukan secara jelas, menurut penjelasan tersebut, wajib ditinggalkan. Begitu pula ucapan yang mencampurkan manfaat dan mudarat, apabila dampak negatifnya lebih besar daripada kebaikan yang dihasilkan, maka meninggalkannya menjadi sikap yang lebih utama.

Adapun perkataan yang tidak memiliki nilai manfaat maupun mudarat juga perlu diwaspadai. Sebab, meskipun tidak secara langsung menimbulkan dosa, ucapan semacam itu dapat menjadi bentuk pemborosan waktu yang seharusnya digunakan untuk perkara yang lebih bernilai.

Habib Musthofa menyampaikan bahwa manusia perlu berhati-hati bahkan terhadap perkataan yang tampak baik.

Sebab, ucapan yang baik sekalipun dapat berubah menjadi sesuatu yang tidak bernilai apabila disertai niat yang keliru, seperti ingin mendapatkan pujian, menunjukkan kelebihan diri, atau mencari perhatian manusia.

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Hadis tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam ajaran Islam mengenai etika berbicara. Seorang muslim tidak hanya dianjurkan untuk menghindari perkataan buruk, tetapi juga diarahkan agar setiap ucapan yang keluar memiliki nilai kebaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *