Example 728x250
Public Service

APPRI: Industri PR Indonesia Bergerak dari Publikasi Menuju Strategi Reputasi dan ROI

5
×

APPRI: Industri PR Indonesia Bergerak dari Publikasi Menuju Strategi Reputasi dan ROI

Sebarkan artikel ini
APPRI

KABARPHATAS.COM, JAKARTA – Industri public relations (PR) Indonesia tengah mengalami perubahan arah. Perusahaan tidak lagi hanya membutuhkan layanan komunikasi untuk membangun eksposur, tetapi mulai menuntut peran yang lebih strategis melalui pengelolaan reputasi, pemanfaatan data, pemahaman pasar, hingga kontribusi terhadap hasil bisnis.

Studi terbaru Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI) bersama Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya menunjukkan hampir seluruh perusahaan responden membutuhkan manajemen reputasi, sementara sekitar 75 persen membutuhkan market intelligence. Di sisi lain, sebanyak 25 persen responden menyebut Return on Investment (ROI) sebagai dampak akhir yang diharapkan dari aktivitas komunikasi dan PR.

Studi bertajuk Tren Belanja Jasa PR dan Optimisme terhadap Industri PR di Tahun 2026 tersebut melibatkan 24 perusahaan dari 19 sektor industri. Selain manajemen reputasi dan market intelligence, sekitar 60 persen responden membutuhkan integrated marketing communication, sedangkan sekitar 35 persen membutuhkan dukungan advokasi.

Temuan tersebut memperlihatkan perubahan ekspektasi terhadap industri PR. Fungsi komunikasi kini tidak hanya dinilai dari kemampuan menghasilkan publikasi atau meningkatkan eksposur, tetapi juga dari kemampuannya mengelola reputasi, isu, krisis, hubungan pemangku kepentingan, hingga memberikan kontribusi nyata bagi organisasi.

Namun, peningkatan kebutuhan terhadap peran strategis tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan praktik pengukuran yang konsisten. Studi APPRI mencatat hanya 36 persen responden yang melakukan pengukuran komunikasi secara berkala.

Sebanyak 32 persen responden melakukan pengukuran hanya ketika menjalankan proyek atau kampanye tertentu, sementara 32 persen lainnya belum melakukan pengukuran keberhasilan komunikasi.

Meski demikian, mulai terlihat perubahan pendekatan dari pengukuran berbasis output menuju outcome dan impact. Sebanyak 37 persen responden menyatakan telah menggunakan kerangka pengukuran yang dianjurkan Association for Measurement and Evaluation of Communication (AMEC). Sementara itu, 25 persen responden menempatkan ROI sebagai dampak akhir yang diharapkan dari aktivitas komunikasi dan PR.

Ketua Umum APPRI, Sari Soegondo, mengatakan perubahan ekspektasi tersebut menjadi tantangan penting bagi industri komunikasi. Menurut dia, pengguna jasa kini mengharapkan pekerjaan PR tidak berhenti pada capaian output, tetapi mampu menunjukkan hasil yang lebih konkret bagi organisasi.

“Saat ini kita bekerja dalam ekosistem komunikasi yang sangat dinamis, dimana pengguna jasa konsultan PR menuntut pencapaian lebih jauh dari hanya sekadar output. Studi APPRI menyebutkan bahwa 25% pengguna jasa menginginkan Return on Investment sebagai bagian dari indikator keberhasilan kerja PR,” kata Sari.

Menurut Sari, kondisi tersebut menunjukkan adanya dorongan agar aktivitas PR semakin dapat dikaitkan dengan hasil yang konkret. Industri komunikasi, kata dia, perlu membangun metode pengukuran yang relevan dan disepakati sejak awal.

Perubahan kebutuhan tersebut berlangsung ketika lanskap pembentukan reputasi perusahaan semakin kompleks. Persepsi publik terhadap organisasi tidak lagi hanya dipengaruhi pemberitaan media, tetapi juga percakapan di platform digital, komunitas, pengalaman konsumen dan karyawan, kreator, regulator, serta kelompok pemangku kepentingan lainnya.

Laporan We Are Social dan Meltwater mengenai tren digital dan media sosial Indonesia 2026 mencatat terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia, atau setara dengan 62,9 persen populasi. Jumlah tersebut meningkat sekitar 26 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *