Example 728x250
Public Service

APPRI: Industri PR Indonesia Bergerak dari Publikasi Menuju Strategi Reputasi dan ROI

8
×

APPRI: Industri PR Indonesia Bergerak dari Publikasi Menuju Strategi Reputasi dan ROI

Sebarkan artikel ini
APPRI

Praktisi public relations sekaligus PR Director Prologue, Adam Rinaldi, mengatakan pengalaman tetap menjadi fondasi penting dalam PR strategis, tetapi harus terus diperbarui agar sesuai dengan perubahan lingkungan bisnis dan teknologi.

“Ketika sebuah institusi berhenti beroperasi, pengetahuan dan professional judgment orang-orang di dalamnya tidak otomatis ikut hilang. Namun, pengalaman masa lalu juga tidak cukup apabila hanya menjadi nostalgia. Pengalaman harus diuji kembali, dilengkapi data, dan dipertemukan dengan kompetensi baru,” ujar Adam.

Salah satu kompetensi yang berkembang dalam industri PR adalah pemanfaatan AI untuk membantu riset, monitoring, identifikasi pola, pemetaan percakapan, analisis data, hingga pengembangan early warning system dalam mendeteksi perubahan isu dan risiko reputasi.

Prologue mengembangkan pendekatan Human Wisdom + AI Intelligence, dengan menempatkan teknologi sebagai alat untuk memperluas kemampuan manusia dalam membaca data dan mengambil keputusan, bukan menggantikan professional judgment.

Di tengah perubahan tersebut, perusahaan tetap menunjukkan optimisme terhadap prospek industri PR Indonesia. Studi APPRI mencatat sebanyak 52 persen responden sangat optimistis dan 36 persen optimistis terhadap pertumbuhan sektor PR dalam tiga hingga lima tahun mendatang.

Sebanyak 10 persen responden bersikap netral, sedangkan 2 persen lainnya kurang optimistis.

APPRI mencatat sejumlah faktor yang mendorong keyakinan terhadap meningkatnya peran strategis PR. Sebanyak 41 persen responden mengaitkannya dengan tingginya kebutuhan terhadap manajemen reputasi, 29 persen dengan meningkatnya kompleksitas isu dan krisis, 18 persen dengan perkembangan teknologi dan data, serta 12 persen dengan regulasi, transparansi, dan tuntutan akuntabilitas publik.

Laporan APPRI juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas industri agar perusahaan konsultan mampu menghadapi perubahan. Diferensiasi, inovasi, adopsi teknologi, kemampuan strategic advisory, dan pengukuran dampak menjadi faktor penting agar industri tidak hanya bersaing berdasarkan harga dan output.

Dody Siregar menilai tantangan industri komunikasi ke depan bukan sekadar menyediakan lebih banyak layanan dalam satu perusahaan, tetapi menghubungkan reputasi, data, kreativitas, teknologi, dan business judgment dalam pengambilan keputusan organisasi.

“Pada akhirnya, tantangan industri komunikasi bukan menambah semakin banyak layanan di bawah satu atap. Tantangannya adalah menghubungkan reputasi, data, kreativitas, teknologi, dan business judgment menjadi keputusan yang membantu organisasi mendapatkan dan mempertahankan kepercayaan,” tutup Dody.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *