Example 728x250
Terkini

Pakar ITS Soroti Desain Kapal dan Stabilitas Laut dalam Insiden KM Virgo Transport 8

11
×

Pakar ITS Soroti Desain Kapal dan Stabilitas Laut dalam Insiden KM Virgo Transport 8

Sebarkan artikel ini
KM Virgo
Pakar Hidrodinamika ITS Prof Ir I Ketut Aria Pria Utama soroti kesesuaian desain kapal dengan kondisi perairan demi aspek keselamatan berlayar terkait tragedi tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa.

Sementara itu, desain kapal yang beroperasi di Indonesia memiliki sejumlah karakteristik berbeda. IKAP menyebut kapal di Indonesia sering kali dirancang dengan bukaan pada sisi tertentu untuk efisiensi energi sekaligus mengurangi beban ruang tertutup atau enclosed space yang dapat berpengaruh terhadap stabilitas kapal.

“Desain seperti itu juga berfungsi mengurangi beban pajak ruang tertutup (enclosed space) yang berisiko bagi stabilitas kapal saat berlayar,” jelasnya.

Dalam analisisnya, IKAP juga menyampaikan kemungkinan masuknya air dalam jumlah besar ke badan kapal sebagai salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Kondisi tersebut dapat dipicu oleh cuaca buruk, gelombang tinggi, maupun pintu ramp atau ramp door yang tidak tertutup rapat atau tidak kedap air.

Masuknya air ke dek kapal tanpa dukungan sistem pompa yang memadai dapat menimbulkan efek permukaan bebas atau sloshing effect. Kondisi tersebut berpotensi membuat kapal mengalami gerakan tidak stabil.

“Risiko ini semakin diperparah jika kendaraan yang dimuat tidak diikat dengan benar, sehingga bergeser dan mengubah titik pusat massa kapal secara drastis,” kata IKAP.

Selain faktor teknis kapal, IKAP juga menyoroti aspek keselamatan penumpang. Menurut dia, tingginya angka korban dalam kecelakaan pelayaran juga dapat dipengaruhi oleh rendahnya edukasi keselamatan kepada penumpang.

Dalam standar keselamatan pelayaran, penumpang seharusnya mendapatkan safety induction atau pengarahan mengenai prosedur keadaan darurat sebelum kapal berangkat.

“Hal ini krusial untuk memastikan penumpang memahami langkah evakuasi mandiri guna mengantisipasi situasi darurat di tengah laut yang tidak terduga,” ujarnya.

Kepala Pusat Studi Sains dan Teknologi Kelautan-Kebumian ITS itu menyampaikan bahwa penguatan standar keselamatan pelayaran menjadi bagian dari upaya membangun sistem transportasi laut yang lebih aman.

Hal tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan infrastruktur transportasi yang aman dan tangguh.

Penerapan standar keselamatan juga berkaitan dengan SDGs poin ke-11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan dalam mewujudkan sistem transportasi yang aman, inklusif, dan berkelanjutan.

Sementara peningkatan kesiapan awak kapal serta edukasi keselamatan bagi penumpang mendukung SDGs poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui penguatan kesadaran keselamatan dalam perjalanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *