Example 728x250
Terkini

Majelis Ar-Rohimin Surabaya Ingatkan Bahaya Ghibah dan Fitnah bagi Hati

3
×

Majelis Ar-Rohimin Surabaya Ingatkan Bahaya Ghibah dan Fitnah bagi Hati

Sebarkan artikel ini
Majelis Ar-Rohimin
H. Abdul Rohim (kanan), Pembina Majelis Ar-Rohimin dan Habib Musthofa Bin Zein Al-Alydrus, Pengasuh Majelis Ar-Rohimin.

KABARPHATAS.COM, SURABAYA – Di tengah derasnya arus informasi dan percakapan yang mudah diakses setiap hari, umat Islam diingatkan untuk lebih berhati-hati terhadap apa yang mereka dengarkan. Sebab, setiap ucapan yang masuk melalui telinga tidak hanya memengaruhi cara berpikir, tetapi juga menentukan kebersihan hati dan kualitas amal seseorang.

Pesan tersebut disampaikan Pengasuh Majelis Ar-Rohimin, Habib Musthofa Bin Zein Al-Alydrus, dalam kajian rutin yang digelar setiap Rabu malam di Gedung Majelis Ar-Rohimin, Tambak Dalam Baru 1B, Surabaya, Rabu (5/8/2026). Menurutnya, menjaga telinga merupakan bagian dari amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Example 300x600

“Telinga adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Gunakanlah telinga untuk mendengarkan Al-Qur’an, ilmu, nasihat, dan zikir, serta jauhilah mendengarkan ghibah, fitnah, perkataan batil, dan segala sesuatu yang melalaikan,” ujar Habib Musthofa.

Ia menjelaskan, pendengaran menjadi salah satu pintu utama yang membentuk karakter manusia. Apa yang terus-menerus didengar akan memengaruhi isi hati, kemudian tercermin dalam ucapan maupun tindakan sehari-hari.

Menurut Habib Musthofa, membiasakan diri mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, hadis, majelis ilmu, serta nasihat yang baik akan memperkuat keimanan dan membuka jalan menuju hidayah. Sebaliknya, jika telinga dipenuhi ghibah, fitnah, kebohongan, dan perkataan sia-sia, hati akan semakin keras dan jauh dari petunjuk Allah.

“Sesungguhnya telinga yang dipelihara dalam ketaatan akan menjadi sebab bertambahnya iman dan hidayah, sedangkan telinga yang digunakan untuk kemaksiatan akan mengeraskan hati dan mengundang murka Allah,” katanya.

Dalam kajian tersebut, Habib Musthofa mengingatkan empat prinsip yang perlu dijaga setiap muslim. Pertama, pendengaran merupakan amanah yang harus digunakan pada jalan kebaikan. Kedua, mendengarkan ghibah, fitnah, dusta, maupun perkataan batil merupakan perbuatan yang tercela. Ketiga, umat Islam dianjurkan memperbanyak mendengarkan Al-Qur’an, hadis, ilmu agama, dan nasihat yang bermanfaat. Keempat, setiap yang didengar akan memberikan pengaruh terhadap hati, lalu membentuk perilaku seseorang.

Pesan tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 36 yang menegaskan bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban pada hari kemudian.

Dalam perspektif fikih akhlak, mendengarkan ghibah tanpa alasan yang dibenarkan syariat juga termasuk perbuatan yang harus dihindari. Para ulama menganjurkan agar seorang muslim menghentikan pembicaraan, memberikan nasihat, mengalihkan topik, atau meninggalkan majelis apabila tidak mampu mencegahnya.

Sebaliknya, memperbanyak mendengarkan bacaan Al-Qur’an, zikir, kajian keislaman, dan nasihat yang baik diyakini menjadi sarana membersihkan hati sekaligus memperkokoh akhlak seorang mukmin.

Menjelang akhir kajian, Habib Musthofa mengajak jamaah agar lebih selektif menerima setiap informasi yang masuk melalui pendengaran.

“Jagalah telingamu sebagaimana engkau menjaga lisanmu. Sebab, pendengaran adalah pintu masuk hati; apa yang sering didengar akan menetap dalam hati, lalu memengaruhi ucapan dan perbuatan,” pesannya.

Sementara itu, Pembina Majelis Ar-Rohimin, H. Abdul Rohim, berharap setiap materi kajian tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menilai majelis taklim memiliki peran penting dalam memperkuat syiar Islam sekaligus membangun persatuan di tengah masyarakat.

Abdul Rohim juga menyoroti adanya pihak-pihak yang, menurutnya, berupaya mengganggu pelaksanaan pengajian dengan mengatasnamakan organisasi tertentu. Ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap berbagai informasi yang belum jelas sumber maupun kebenarannya.

Menurut dia, sikap tabayun menjadi salah satu ajaran penting yang harus dikedepankan. Setiap kabar yang diterima sebaiknya dikonfirmasi kepada pihak yang memahami persoalan sehingga tidak memicu kesalahpahaman maupun perpecahan di tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *