Example 728x250
Terkini

Pakar ITS Soroti Desain Kapal dan Stabilitas Laut dalam Insiden KM Virgo Transport 8

7
×

Pakar ITS Soroti Desain Kapal dan Stabilitas Laut dalam Insiden KM Virgo Transport 8

Sebarkan artikel ini
KM Virgo
Pakar Hidrodinamika ITS Prof Ir I Ketut Aria Pria Utama soroti kesesuaian desain kapal dengan kondisi perairan demi aspek keselamatan berlayar terkait tragedi tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa.

KABARPHATAS.COM, SURABAYA – Dugaan penyebab terbaliknya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa, tepatnya sekitar Kepulauan Masalembo pada Minggu (13/9), kembali menjadi perhatian. Pakar hidrodinamika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyoroti pentingnya kesesuaian desain kapal dengan karakteristik perairan Indonesia sebagai salah satu aspek yang perlu dikaji.

Guru Besar Departemen Teknik Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS, Prof Ir I Ketut Aria Pria Utama MSc PhD, mengatakan aspek performa kapal saat beroperasi di laut atau seakeeping masih kerap kurang diperhatikan dalam proses perancangan kapal, khususnya untuk kebutuhan pelayaran di wilayah Indonesia.

Menurut dia, pengabaian terhadap aspek tersebut dapat memicu berbagai persoalan, mulai dari stabilitas kapal hingga kenyamanan gerak selama pelayaran.

“Perancangan aspek performa kapal di laut (seakeeping) kerap diabaikan. Terutama bagi perancang kapal di perairan Indonesia, sehingga tidak sedikit terjadinya masalah stabilitas dan kenyamanan gerak saat beroperasi,” ujar pria yang akrab disapa IKAP tersebut.

KM Virgo Transport 8 diketahui merupakan kapal impor asal Jepang dengan usia sekitar 30 tahun. Namun, menurut IKAP, usia kapal bukan menjadi faktor utama selama kapal mendapatkan perawatan yang baik dan sesuai standar teknis.

Ia menilai hal yang lebih penting untuk dikaji adalah kesesuaian desain kapal dengan kondisi perairan tempat kapal tersebut beroperasi.

“Yang perlu dikritisi adalah apakah desain kapal buatan Jepang itu sesuai dan direkomendasikan untuk berlayar di lautan Indonesia dengan gelombang tinggi,” tuturnya.

IKAP menjelaskan, karakteristik geografis perairan Jepang berbeda dengan Indonesia. Negara tersebut memiliki topografi laut dengan jarak antarpulau yang relatif dekat, sedangkan Indonesia memiliki wilayah perairan terbuka dengan potensi gelombang besar, termasuk di kawasan Laut Jawa.

Menurut dia, perbedaan karakteristik tersebut menuntut adanya standar desain lambung kapal yang menyesuaikan kondisi operasional.

“Karakteristik rute pelayaran yang ekstrem ini menuntut standar desain lambung kapal yang berbeda,” ungkap alumnus doktoral University of Southampton, Inggris tersebut.

Lebih lanjut, IKAP menjelaskan bahwa kapal jenis roll-on/roll-off (Ro-Ro) yang berasal dari negara dengan kondisi empat musim umumnya memiliki desain lambung tertutup penuh. Desain tersebut dibuat untuk meningkatkan keamanan kapal dalam menghadapi kondisi cuaca dingin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *