KABARPHATAS.COM, SURABAYA – Penguasaan keterampilan bedah dasar menjadi salah satu aspek penting dalam mempersiapkan calon dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi. Dalam konteks tersebut, dr. Ardita Faradhika Hidayati, mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Obgyn Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), berhasil meraih predikat peserta terbaik pertama dalam Pelatihan Basic Surgical Skills (BSS) I Regional Periode 2 Tahun 2026.
Ardita meraih prestasi tersebut setelah mengikuti pelatihan intensif selama tiga hari bersama 45 peserta lainnya dari berbagai institusi penyelenggara PPDS Obgyn di Indonesia, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta.
Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh Komisi Pelatihan Kolegium Obstetri dan Ginekologi Indonesia (KOGI) bekerja sama dengan Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair). Program ini dirancang untuk membangun kemampuan bedah dasar calon dokter spesialis melalui pembelajaran dan penilaian berbasis kompetensi.
Bagi Ardita, capaian ini menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan spesialis yang tengah ditempuhnya di Unusa. Ia merupakan alumni Fakultas Kedokteran Unusa angkatan 2015 dan saat ini menjadi salah satu dari lima peserta dalam angkatan pertama PPDS Obgyn di universitas tersebut.
Selain mengembangkan program pendidikan spesialis Obgyn, pada 2026 Unusa juga dipercaya menerima peserta PPDS Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi atau spesialis paru.
Pelatihan BSS I sendiri telah diselenggarakan KOGI sejak 2009 sebagai upaya menstandardisasi keterampilan bedah dasar bagi calon dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi di Indonesia.
Pelaksanaannya didukung modul berbasis kompetensi yang terdiri atas buku acuan, buku pelatih, dan buku peserta untuk memastikan proses pembelajaran serta penilaian berlangsung secara terarah.
Pelatihan ini juga menjadi salah satu persyaratan bagi peserta PPDS-1 Obgyn untuk mengikuti ujian nasional. Karena itu, peserta dituntut tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu memperagakan keterampilan sesuai standar kompetensi yang telah ditetapkan.
Sejumlah materi yang dipelajari meliputi pencegahan infeksi, pengenalan dan penggunaan instrumen bedah, pemilihan benang dan jarum, teknik simpul, insisi, penjahitan, hemostasis, serta diseksi.
Peserta juga mendapatkan pembelajaran mengenai episiotomi, penjahitan ruptur perineum, dan penggunaan elektrosurgery.
Keterampilan tersebut menjadi fondasi bagi calon dokter spesialis dalam menjalankan prosedur bedah secara cermat dengan tetap memperhatikan keselamatan pasien.
Penguasaan teknik dasar juga menjadi bagian dari proses pembentukan kompetensi profesional dalam pelayanan Obstetri dan Ginekologi.
Dekan FK Unusa, Prof. Budi Santoso, menyampaikan bahwa prestasi Ardita merupakan kebanggaan bagi universitas, terutama Program Studi PPDS Obgyn.
Ia menilai capaian tersebut mencerminkan pentingnya pendidikan klinis yang menempatkan kompetensi, kedisiplinan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia kesehatan sebagai prioritas.
Ketua Program Studi PPDS Obgyn Unusa, Dr. Hermanto, menambahkan bahwa Unusa akan terus berkomitmen mengembangkan pendidikan kedokteran yang berorientasi pada kompetensi dan mutu pelayanan kesehatan.
Menurut dia, prestasi yang diraih mahasiswa dalam pelatihan profesional seperti BSS I diharapkan dapat mendorong peserta didik lainnya untuk terus meningkatkan kemampuan dan memperkuat profesionalisme.
Upaya tersebut penting untuk mempersiapkan calon dokter spesialis agar mampu memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas bagi masyarakat.



