KABARPHATAS.COM, SURABAYA – Perjuangan menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari ruang-ruang besar atau gerakan berskala nasional. Aeshnina Azzahra Aqilani, mahasiswa Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), membuktikan bahwa suara anak muda dapat menjangkau berbagai forum internasional.
Aktivis lingkungan asal Jawa Timur yang akrab disapa Nina itu konsisten menyuarakan perlawanan terhadap pencemaran plastik sejak usia dini.
Kepedulian Nina terhadap lingkungan tumbuh dari lingkungan keluarganya. Kedua orang tuanya merupakan aktivis lingkungan sekaligus biolog yang memperkenalkannya pada pentingnya menjaga alam.
Sejak kecil, ia terbiasa mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan memahami bahwa selalu ada alternatif untuk membatasi sampah plastik.
“Lingkungan ini tempat tinggal kita. Kita tidak akan bisa hidup tanpa alam, baik air, makanan, maupun udara dan kedua orang tua saya menjadi role model. Mereka memberikan contoh bahwa mengurangi plastik sekali pakai itu bisa dan selalu ada alternatifnya,” tuturnya.
Kesadaran tersebut kemudian berkembang menjadi keberanian untuk menyampaikan aspirasi. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Nina bersama sejumlah temannya pernah menulis surat kepada Bupati Gresik untuk menyampaikan keluhan mengenai pencemaran lingkungan.
Meski surat tersebut tidak langsung menghasilkan penanganan terhadap persoalan yang mereka sampaikan, pemerintah daerah mengundang mereka ke kantor dan memberikan kesempatan untuk bertemu dengan wakil bupati. Pengalaman itu menjadi pelajaran penting bagi Nina bahwa suara anak muda tetap memiliki ruang untuk didengar.
“Dengan kata-kata, dengan pulpen kita, apalagi kalau kita tulis beramai-ramai, pemerintah bisa mendengar suara kita. Penanganan masalah lingkungan membutuhkan waktu lama karena pemerintah belum menjadikan isu ini prioritas,” jelasnya.
Keberanian Nina semakin terlihat pada 2019. Ketika masih duduk di kelas satu SMP, ia menulis surat kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan menggelar aksi unjuk rasa di depan Konsulat Amerika Serikat di Surabaya. Aksi tersebut menarik perhatian media nasional hingga internasional.
Pemberitaan mengenai gerakannya kemudian mengantarkan Nina pada jaringan aktivis lingkungan internasional. Kiprahnya diketahui Plastic Soup Foundation, organisasi lingkungan yang berbasis di Belanda. Melalui surat elektronik, organisasi tersebut mengundangnya untuk terlibat dalam forum internasional.
Pada 2021, Nina tampil sebagai pembicara dalam Plastic Health Summit di Amsterdam, Belanda. Kedua orang tuanya yang juga memperoleh undangan turut mendampinginya.
Ia kemudian terlibat dalam rangkaian konferensi iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) COP 26 di Glasgow, Skotlandia, serta sejumlah forum internasional lainnya, termasuk di Kanada dan Indonesia.
Dalam berbagai forum tersebut, Nina turut menyuarakan persoalan sampah impor. Baginya, pencemaran plastik bukan sekadar persoalan limbah, melainkan ancaman terhadap kualitas lingkungan dan pemenuhan hak dasar masyarakat.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatiannya adalah ancaman mikroplastik. Partikel plastik berukuran sangat kecil itu kini ditemukan di berbagai bagian tubuh manusia, mulai dari paru-paru, otak, hingga plasenta.
Nina menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius, terutama karena generasi muda semakin menghadapi tantangan dalam memperoleh hak dasar berupa air minum bersih dan udara bersih.
Konsumsi plastik sekali pakai yang berlebihan turut memperbesar persoalan pencemaran lingkungan.
Ia juga menyoroti pembahasan perjanjian plastik atau Plastic Treaty di tingkat PBB. Menurutnya, pembahasan tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah plastik telah menjadi perhatian global dan membutuhkan keseriusan berbagai pihak.
Di tengah kiprahnya dalam forum internasional, Nina terus memperluas gerakan edukasi lingkungan. Ia juga mendorong generasi muda agar tidak ragu menyampaikan aspirasi, terutama ketika berhadapan dengan persoalan yang menyangkut masa depan lingkungan.
“Suara kita berdampak. Suara kita besar kalau kita terus mau, dan pasti akan dibukakan jalan,” tegasnya.



