Example 728x250
Pendidikan

Khadijah 2035 Jadi Target Bersama, Yayasan Khadijah Gelar Retret dan Konsolidasi

23
×

Khadijah 2035 Jadi Target Bersama, Yayasan Khadijah Gelar Retret dan Konsolidasi

Sebarkan artikel ini
Yayasan Khadijah Kabarphatas
Ketua Umum Yayasan Khadijah Dra. Hj. Masruroh Wachid, MPd., saat sambutan.

KABARPHATAS.COM, SURABAYA – Ada pekerjaan besar yang sedang disiapkan Yayasan Taman Pendidikan dan Sosial Nahdlatul Ulama Khadijah. Bukan hanya soal mempertahankan apa yang sudah berjalan, tetapi juga menyiapkan arah lembaga hingga 2035.

Pesan itu mengemuka dalam Retreat Pengurus Yayasan, pimpinan sekolah, Pondok Pesantren Khadijah, unit sosial, guru, dan karyawan yang digelar Minggu (27/9). Mengambil tema “Menjaga Amanah, Meneguhkan Jati Diri Sekolah Juara untuk Khadijah 2035”, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengevaluasi perjalanan sekaligus menyatukan langkah.

Ketua Umum Yayasan Khadijah Dra. Hj. Masruroh Wachid, MPd., menegaskan bahwa perjalanan menuju target tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh unsur yayasan.

Menurut dia, membangun nama baik lembaga bukan pekerjaan satu atau dua orang. Setiap individu yang berada di lingkungan Khadijah memiliki peran dalam membentuk citra dan kualitas lembaga.

“Supaya kita menjadi orang yang terbaik dengan branding terbaik, supaya anak-anak kita terbranding dengan baik, yayasan kita juga terbranding dengan baik,” kata Masruroh.

Karena itu, ia meminta pengurus yayasan, kepala sekolah, guru, karyawan, dan seluruh unsur lainnya tidak berjalan sendiri-sendiri. Kerja sama menjadi salah satu kunci untuk memastikan amanah yang diberikan kepada masing-masing dapat dijalankan dengan baik.

“Semua yang ada di dalam yayasan ini harus terlibat, berikhtiar, berusaha untuk membranding dirinya masing-masing,” ujarnya.

Masruroh juga mengingatkan pentingnya membangun suasana kerja yang saling menghargai. Menurut dia, kebersamaan tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus diwujudkan melalui sikap saling membantu dalam menjalankan tugas.

“Jadi kita semua harus bertanggung jawab atas tugas yang telah dibebankan kepada masing-masing pribadi,” tegasnya.

Bagi Masruroh, retret kali ini juga menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dan melihat kembali perjalanan yang sudah dilalui. Ia menyebutnya sebagai bagian dari muhasabah.

Retret, kata dia, tidak dimaknai sebagai langkah mundur. Sebaliknya, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk menengok pekerjaan yang telah dilakukan dan menjadikannya sebagai bahan perbaikan.

“Ketika ada kemajuan yang positif maka kita harus tingkatkan, dan yang negatif akan kita perbaiki,” katanya.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *