Example 728x250
Ekonomi Bisnis

Kenapa Isi Snack, Tisu, hingga Sampo Makin Sedikit? Kenali Shrinkflation

19
×

Kenapa Isi Snack, Tisu, hingga Sampo Makin Sedikit? Kenali Shrinkflation

Sebarkan artikel ini
Shrinkflation Kabarphatas

KABARPHATAS.COM, JAKARTA – Ukuran kemasan masih terlihat sama, harga di rak toko tidak banyak berubah, tetapi produk terasa lebih cepat habis. Kondisi semacam ini mungkin pernah dialami ketika membeli makanan ringan, sampo, tisu, detergen, atau kebutuhan rumah tangga lainnya.

Perubahan tersebut dapat menjadi bagian dari fenomena yang dikenal sebagai shrinkflation. Istilah ini merujuk pada strategi ketika ukuran, berat, atau volume suatu produk dikurangi, sementara harga jualnya tetap atau hanya mengalami perubahan kecil.

Kata shrinkflation berasal dari gabungan shrink yang berarti menyusut dan inflation yang berarti inflasi. Fenomena ini membuat konsumen menghadapi perubahan nilai barang tanpa selalu melihat kenaikan harga secara langsung.

Contohnya sederhana. Sebungkus keripik yang sebelumnya berisi 100 gram dapat berubah menjadi 85 gram, sedangkan harganya masih berada pada kisaran yang sama. Konsumen tetap membayar nominal yang hampir sama, tetapi memperoleh jumlah produk yang lebih sedikit.

Hal serupa dapat terjadi pada produk kebutuhan sehari-hari. Jumlah lembar tisu dapat dikurangi, volume detergen cair disesuaikan, atau ukuran sampo diperkecil. Perubahan tersebut sering kali tidak langsung terasa karena kemasan dan mereknya tetap sama.

“Sederhananya, shrinkflation terjadi ketika produsen mengurangi ukuran, berat, atau volume suatu produk, sementara harganya tetap sama atau mengalami perubahan yang relatif kecil,” ujar Michael Hartawan, Head of Retail Banking Brand & Marketing Bank Jago.

Persoalannya, perubahan kecil pada satu produk dapat menjadi lebih berarti ketika terjadi berulang kali. Produk yang sebelumnya mampu digunakan selama satu bulan, misalnya, dapat habis lebih cepat setelah ukurannya berkurang. Konsumen akhirnya harus membeli kembali dalam waktu yang lebih singkat.

Artinya, melihat harga di label saja tidak selalu cukup untuk mengetahui seberapa besar pengeluaran yang sebenarnya. Konsumen perlu memperhatikan hubungan antara harga, ukuran produk, jumlah pemakaian, dan frekuensi pembelian.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengevaluasi kebiasaan belanja. Catat produk yang rutin dibeli, ukuran kemasannya, harga, serta berapa lama produk tersebut biasanya bertahan.

Ambil contoh sampo. Jika sebelumnya membeli ukuran 180 mililiter seharga Rp50.000 dan satu botol dapat digunakan selama dua bulan, perubahan ukuran menjadi 160 mililiter dengan harga yang sama perlu diperhatikan.

Jika produk tersebut kemudian habis lebih cepat, jumlah pembelian dalam satu tahun berpotensi bertambah. Akibatnya, total pengeluaran tahunan juga bisa meningkat meskipun harga satu botol tidak berubah.

Perbandingan harga per satuan juga dapat membantu ketika memilih produk. Konsumen dapat menghitung harga per gram, per mililiter, atau per lembar, tergantung jenis produknya.

Misalnya, sampo A berukuran 180 mililiter dijual Rp50.000. Dengan demikian, harga per mililiternya sekitar Rp278. Sementara sampo B berukuran 200 mililiter dijual Rp55.000 atau sekitar Rp275 per mililiter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *