Example 728x250
Terkini

BBM Langka di Bali Ganggu Aktivitas Warga, Antrean SPBU hingga 7 Jam

5
×

BBM Langka di Bali Ganggu Aktivitas Warga, Antrean SPBU hingga 7 Jam

Sebarkan artikel ini
BBM langka Kabarphatas

KABARPHATAS.COM, DENPASAR, BALI – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali mengganggu aktivitas masyarakat. Warga mengaku harus mengantre hingga enam sampai tujuh jam di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), tetapi belum tentu mendapatkan bahan bakar. Bahkan, ketika berhasil mengisi, pembelian disebut dibatasi hingga Rp30 ribu.

Dampak kelangkaan BBM tidak hanya dirasakan pengguna kendaraan pribadi. Pekerja yang mengandalkan kendaraan bermotor untuk mencari nafkah turut terdampak, sementara aktivitas keluarga, termasuk pendidikan anak, ikut terganggu. Warga pun terpaksa membatasi mobilitas karena kesulitan memperoleh bahan bakar.

Atit, warga Dalung, Denpasar, mengatakan kelangkaan BBM turut memengaruhi aktivitas keluarganya. Suaminya, seorang pegawai negeri sipil (PNS) di sektor pelayanan publik, kini bekerja dari rumah atau work from home (WFH).

“Mau jalan bagaimana, minyak gak ada, udah antre dari jam 5 subuh pagi masih tidak kebagian,” ujar Atit.

Ia mengaku telah mengantre sejak pukul 05.00 WITA, tetapi tidak memperoleh BBM. Pengalaman itu menunjukkan bahwa waktu tunggu yang panjang tidak menjamin warga dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Keluhan serupa disampaikan Wayan, warga asli Buleleng yang kini tinggal di kawasan Gatot Subroto (Gatsu), Bali. Menurut dia, kondisi pasokan BBM juga berdampak pada aktivitas pendidikan anaknya yang duduk di bangku sekolah menengah kejuruan (SMK).

“Anak saya SMK libur hari ini, bli,” tutur Wayan.

Wayan sendiri bekerja sebagai pengemudi ojek daring Grab. Profesi tersebut membuat ketersediaan BBM menjadi kebutuhan utama untuk menunjang mobilitas sekaligus menjaga pendapatan hariannya.

Ia mengatakan, panjangnya antrean tidak sebanding dengan jumlah bahan bakar yang dapat dibeli. Warga yang telah menghabiskan waktu berjam-jam menunggu masih harus menghadapi pembatasan pembelian.

“Misal kita antre nih 6 jam sampai 7 jam, ketika dapat belinya minyak juga dibatasi hanya Rp30 ribu,” tuturnya.

Bagi pengemudi ojek daring, waktu yang tersita untuk mengantre berpotensi mengurangi jam kerja produktif. Kesulitan memperoleh BBM juga dapat menghambat kemampuan mereka melayani penumpang dan memperoleh penghasilan.

Menanggapi kondisi pasokan BBM tersebut, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan perusahaan terus memantau ketersediaan stok dan perkembangan konsumsi BBM di berbagai daerah.

Ia menjelaskan bahwa penyaluran BBM ke SPBU dioptimalkan setelah kapal pengangkut tiba dan proses pembongkaran muatan berlangsung. Penguatan pasokan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan BBM serta kondisi stok di setiap wilayah.

Menurut Ahad, langkah tersebut diharapkan membuat distribusi lebih efektif dalam memenuhi permintaan masyarakat Bali. Optimalisasi penyaluran menjadi bagian dari upaya Pertamina menyesuaikan pasokan dengan kebutuhan di lapangan.

Namun, bagi warga yang menghadapi antrean panjang, kepastian ketersediaan BBM di SPBU dan kelancaran distribusi masih menjadi kebutuhan mendesak. Kelangkaan bahan bakar tidak hanya menyulitkan pengendara mengisi kendaraan, tetapi juga memengaruhi pekerjaan, pendidikan, serta aktivitas ekonomi masyarakat.

Masyarakat berharap distribusi BBM segera kembali lancar sehingga waktu tunggu di SPBU berkurang dan mobilitas sehari-hari tidak terus terganggu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *