KABARPHATAS.COM, MALANG – Keterbatasan lahan pertanian di Kota Malang mendorong Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) mengembangkan ekosistem usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Gagasan itu dikembangkan melalui inisiatif Green UMKM atau UMKM Hijau dalam kegiatan Rame-rame Pasar Hijau di Malang Creative Center (MCC), Jumat, 2 Oktober 2026.
Lebih dari 40 UMKM kuliner binaan KRKP ikut memamerkan produk dalam kegiatan tersebut. Selain menjadi ruang promosi, Pasar Hijau dirancang sebagai forum edukasi untuk mendorong pelaku UMKM konvensional bertransformasi menjadi pelaku usaha yang lebih memperhatikan aspek lingkungan.
Koordinator Nasional KRKP Abdullah Said mengatakan transformasi menuju sistem pangan perkotaan membutuhkan waktu sekaligus kolaborasi lintas sektor. Menurut dia, persoalan pangan di wilayah perkotaan tidak cukup diselesaikan hanya dari sisi produksi.
“Upaya kami tidak hanya sekadar produksi, tetapi membangun ekosistem dari hulu ke hilir berbasis sistem,” kata Said.
KRKP menjadikan Kota Malang sebagai salah satu lokasi pilot project program Pangan Kota Kita, selain Bogor. Menurut Said, pemilihan Malang salah satunya didasarkan pada karakteristik demografinya. Populasi konsumen di kota tersebut didominasi kelompok Gen Z dan Gen Alpha yang disebut mencapai 43 persen.
Menurut dia, karakter konsumsi kelompok muda yang cenderung instan dan seragam sekaligus menghasilkan banyak sampah makanan menjadi tantangan tersendiri bagi sistem pangan perkotaan.
Karena itu, transformasi yang didorong KRKP mencakup sejumlah aspek, mulai dari penerapan urban farming, diversifikasi komoditas lokal, penanganan food waste, hingga pengembangan Green Entrepreneurship.
Konsep tersebut diarahkan agar pelaku UMKM tidak hanya mengejar keuntungan dari produk yang dijual, tetapi juga memperhitungkan dampak sosial dan lingkungan dari kegiatan usahanya.
Pengurangan jejak karbon, pembatasan limbah kemasan, serta penggunaan bahan baku lokal secara berkelanjutan menjadi bagian dari pendekatan tersebut.
“Jadi tidak sekadar berwirausaha, produknya untung banyak, tapi bikin orang yang mengonsumsinya sakit, limbahnya dibuang sembarangan. Itu yang ingin kita dorong agar ada perubahan perilaku menuju green entrepreneur,” ujar Said.
KRKP juga mendorong pelaku usaha muda mengembangkan produk pangan yang sehat sekaligus ramah lingkungan. Said berharap dukungan pemerintah dapat memperluas edukasi dan membangun kesinambungan dengan generasi muda.
“Kami ingin menjalin kerja sama lebih luas mendorong keanekaragaman pangan yang sehat dan bergizi,” katanya.
Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Hamid Sangadji mengapresiasi upaya membangun transformasi sistem pangan tersebut.
Namun, dia menekankan bahwa tata kelola pangan perkotaan seperti Malang harus dilihat sebagai satu sistem yang saling berkaitan.
Malang memiliki tingkat pertumbuhan dan mobilitas penduduk yang tinggi karena dikenal sebagai kota pendidikan dan wisata. Pada saat yang sama, ketersediaan lahan pertanian terbatas karena harus berkompetisi dengan sektor jasa.



