KABARPHATAS.COM, SURABAYA – Universitas Airlangga (UNAIR) memperkuat langkah hilirisasi hasil riset melalui kolaborasi langsung dengan sektor industri. Upaya tersebut diwujudkan dalam gelaran Industry Matching (IM) Airlangga Startup Summit and Innovation Expo (ASSIE) IV 2026 yang resmi dibuka di Atrium Grand City Mall, Surabaya, Jumat (6/11/2026).
Mengusung tema “Satu Ruang, Ribuan Inovasi”, pameran yang berlangsung pada 6–8 November 2026 itu menghadirkan 100 booth inovasi. Kegiatan ini melibatkan 13 mitra industri, 10 perguruan tinggi mitra, serta 15 fakultas dan 18 unit di lingkungan UNAIR. ASSIE merupakan agenda tahunan yang telah diselenggarakan sejak 2023.
Ketua Pusat Akselerasi Inovasi dan Bisnis (Pasinbis) UNAIR, Prof. Dr. Muhamad Nafik Hadi Ryandono, SE., M.Si., mengatakan penyelenggaraan ASSIE tahun ini secara khusus diarahkan untuk mempertemukan inovator kampus dengan pelaku industri.
Orientasi tersebut diharapkan membuka peluang agar produk hasil penelitian tidak berhenti pada tahap pengembangan, tetapi dapat memasuki proses produksi dan pemasaran.
“Tahun ini kami khususkan pada industry matching agar produk hasil riset dapat langsung diserap dan dipasarkan oleh industri. Target kami adalah memperkenalkan kepada masyarakat dan dunia usaha bahwa inovasi bernilai komersial bisa lahir dari ekosistem kampus,” ujarnya.
Wakil Rektor Bidang Ekosistem Entrepreneurial dan Pengembangan Bisnis UNAIR, Prof. Dr. Koko Srimulyo, Drs., M.Si., menilai hilirisasi masih menjadi salah satu tantangan utama perguruan tinggi.
Menurut dia, hasil penelitian membutuhkan dukungan ekosistem yang mampu menghubungkan aktivitas akademik dengan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, sinergi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan publik menjadi faktor penting dalam memperluas manfaat inovasi.
Riset tidak cukup hanya menghasilkan laporan ilmiah, tetapi juga harus mampu menjawab persoalan nyata melalui penerapan di tengah masyarakat.
“Riset yang baik tidak cukup hanya berhenti sebagai laporan ilmiah, tetapi perlu menemukan jalan dari laboratorium menuju masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci pertumbuhan inovasi yang memberikan dampak nyata,” ungkapnya.
Dukungan terhadap penguatan hilirisasi juga disampaikan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Dr. Fauzan Adziman, ST., M.Eng., Ph.D. Ia mengapresiasi inovasi UNAIR, khususnya pada sektor kesehatan dan pangan nasional.
Menurut Fauzan, pemerintah berkomitmen memperkuat pendanaan riset hilir secara berkelanjutan. Langkah tersebut ditujukan untuk mempercepat pemanfaatan hasil penelitian sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor.
Ia juga menyampaikan rencana peluncuran program Hiliriset serta Peta Jalan dan Agenda Riset Strategis Nasional 2026 yang disusun melalui kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Program tersebut membuka ruang bagi sektor industri untuk mengajukan persoalan konkret yang kemudian dapat dicarikan solusinya bersama peneliti perguruan tinggi.
“Riset adalah investasi jangka panjang yang dibangun untuk menyelesaikan masalah di bidang kesehatan, pengentasan kemiskinan, dan swasembada pangan. Kami siap memfasilitasi pendanaan agar inovasi berbasis deep tech kampus dapat dipercepat proses perizinan hingga komersialisasinya,” pungkasnya.
Komitmen UNAIR dalam memperluas pemanfaatan hasil riset turut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pasinbis UNAIR dan PT Kosmetika Global Indonesia.
Kesepakatan tersebut menjadi langkah awal untuk membawa inovasi yang dikembangkan di lingkungan kampus menuju tahap produksi dan pemasaran.
Dalam kesempatan tersebut, Fauzan juga menyebut potensi pasar industri kosmetik Indonesia telah mencapai lebih dari Rp100 triliun. Besarnya potensi pasar tersebut menjadi salah satu peluang bagi pengembangan inovasi yang dapat dimanfaatkan oleh sektor industri.
Selain PKS dengan PT Kosmetika Global Indonesia, UNAIR menandatangani Non-Disclosure Agreement (NDA) dengan PT Crown Teknologi Indonesia. Penandatanganan berlangsung dalam sesi industry matching yang mempertemukan inovator UNAIR dengan pelaku industri.
Kesepakatan NDA tersebut menjadi tahap awal bagi penjajakan kolaborasi yang lebih mendalam dalam pengembangan teknologi antara kedua pihak.



