Ketua Tim PkM Dosen Universitas Terbuka Tahun 2026, Dr. Milawati, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa program Aksara Berdaya menggunakan pendekatan Participatory Learning and Action (PLA). Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dalam proses belajar dan pemberdayaan.
Melalui metode ini, masyarakat tidak hanya menerima materi yang telah disiapkan, tetapi juga terlibat dalam mengidentifikasi kebutuhan, menyampaikan aspirasi, serta mengembangkan solusi yang sesuai dengan kondisi mereka sendiri.
Menurut Milawati, penggunaan kearifan lokal Madura sebagai media pembelajaran merupakan strategi yang efektif untuk membangun kedekatan emosional peserta dengan materi yang dipelajari. Pendekatan tersebut juga membantu memperkuat penghargaan masyarakat terhadap warisan budaya yang mereka miliki.
“Aksara Berdaya tidak hanya mengajarkan kemampuan literasi dasar, tetapi juga menumbuhkan kesadaran, keberanian, dan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan potensi lokal yang mereka miliki. Kearifan lokal Madura menjadi media pembelajaran yang sangat efektif karena dekat dengan kehidupan peserta dan mampu membangun rasa memiliki terhadap budaya sendiri,” ujarnya.
Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Yunita Pancasari, yang mendampingi masyarakat selama pelaksanaan kegiatan, mengatakan antusiasme peserta menjadi salah satu indikator keberhasilan program tersebut. Menurut dia, para peserta menunjukkan minat yang tinggi untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan diri.
Ia melihat suasana pembelajaran yang terbuka membuat peserta merasa lebih nyaman untuk berdiskusi, bertanya, maupun berbagi pengalaman dengan peserta lainnya. Situasi itu turut membangun rasa percaya diri yang sebelumnya belum tentu dimiliki oleh seluruh peserta.
“Kami melihat ibu-ibu sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Mereka merasa dihargai, didengarkan, dan diberi kesempatan untuk terus belajar. Program ini membantu masyarakat menjadi lebih percaya diri serta memiliki keterampilan yang dapat mendukung kesejahteraan keluarga,” tuturnya.
Direktur UT Surabaya, Prof. Dr. Suparti, M.Pd., menegaskan bahwa pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu pilar utama dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi. Karena itu, setiap program yang dijalankan harus mampu memberikan manfaat nyata dan menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.
Menurut dia, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memastikan pengetahuan tersebut dapat diterapkan guna membantu masyarakat menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Universitas Terbuka berkomitmen menghadirkan program pengabdian yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan. Melalui Aksara Berdaya, kami berharap lahir komunitas belajar yang mandiri, perempuan yang semakin berdaya, serta masyarakat yang mampu meningkatkan kualitas hidupnya melalui pendidikan dan penguatan potensi lokal,” kata Suparti.
Rangkaian kegiatan program meliputi pemetaan kebutuhan literasi masyarakat, penyelenggaraan kelas literasi fungsional, integrasi kearifan lokal Madura ke dalam materi pembelajaran, penguatan literasi ekonomi dan digital sederhana, pelaksanaan proyek komunitas, hingga pendampingan berkelanjutan.
Program tersebut menyasar perempuan, ibu rumah tangga, pelaku usaha mikro, serta warga aktif di Desa Katol Timur dengan jumlah peserta sekitar 40 orang. Kelompok sasaran ini dipilih karena dinilai memiliki peran penting dalam kehidupan keluarga maupun pembangunan sosial di tingkat komunitas.
Selain meningkatkan kemampuan literasi masyarakat, program Aksara Berdaya juga diarahkan untuk menghasilkan berbagai luaran yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Luaran tersebut antara lain berupa modul pembelajaran berbasis kearifan lokal Madura, produk dan karya peserta, publikasi kegiatan, dokumentasi praktik baik pemberdayaan masyarakat, serta model pembelajaran yang berpotensi diterapkan di wilayah lain.
Melalui perpaduan antara pendidikan, partisipasi masyarakat, dan penguatan budaya lokal, program ini menjadi salah satu contoh bagaimana perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam membangun kapasitas masyarakat dari tingkat akar rumput.
Di Desa Katol Timur, proses pemberdayaan itu dimulai dari hal yang sederhana: membuka ruang belajar yang memberi kesempatan bagi perempuan untuk mengenali potensi dirinya, memperluas pengetahuan, dan mengambil peran yang lebih besar dalam kehidupan sosial maupun ekonomi di lingkungannya.
















