UniMAP sendiri didirikan pada 2001 dan memiliki perhatian terhadap pengembangan ekosistem semikonduktor melalui pendidikan, penelitian, pengembangan talenta, fasilitas laboratorium, serta kolaborasi dengan industri.
Melalui pelatihan tersebut, para dosen ITS memperoleh pengalaman langsung mengenai simulasi dan proses fabrikasi Metal-Oxide-Semiconductor Field-Effect Transistor (MOSFET).
Materi yang dipelajari mencakup tahapan fabrikasi perangkat semikonduktor, antara lain deposisi material secara presisi dalam skala sangat kecil, proses etsa, doping, hingga pengujian hasil fabrikasi.
Pengalaman tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai hasil pelatihan. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat ditransformasikan untuk memperkuat proses pembelajaran, penelitian, pengembangan fasilitas laboratorium, serta pengembangan talenta semikonduktor di ITS.
“Pelatihan ini merupakan langkah awal untuk membangun kapasitas pengetahuan dan pengalaman yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi kegiatan pendidikan, penelitian, pembangunan laboratorium, pengembangan talenta, serta kolaborasi yang lebih luas dengan industri,” tutur Guru Besar Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS itu.
Kolaborasi ITS dan UniMAP sekaligus memperlihatkan peran perguruan tinggi dalam mempercepat proses pembelajaran teknologi melalui kerja sama dengan institusi yang telah lebih dahulu mengembangkan kapasitas semikonduktor.
Pengembangan industri semikonduktor nasional sendiri membutuhkan proses jangka panjang serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan.
Perguruan tinggi berperan menyiapkan talenta sekaligus mengembangkan riset dan teknologi. Di sisi lain, industri membutuhkan sumber daya manusia dan inovasi yang dapat mendukung pertumbuhan bisnis. Dukungan kebijakan pemerintah, kepastian investasi, infrastruktur, dan kesinambungan riset juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem tersebut.
Agung menyebut setidaknya ada dua pekerjaan yang perlu berjalan secara simultan. Pertama, menciptakan kebijakan yang memberikan kepercayaan dan kepastian bagi industri semikonduktor untuk berinvestasi dan berkembang hingga pada waktunya mampu membangun fasilitas foundry di Indonesia.
Kedua, perguruan tinggi perlu menyiapkan talenta yang menguasai teknologi semikonduktor secara menyeluruh, mulai dari desain, fabrikasi, karakterisasi, hingga pengembangan aplikasinya.
“Industri membutuhkan talenta, sementara talenta membutuhkan ekosistem industri untuk berkembang. Perguruan tinggi menjadi salah satu jembatan penting yang menghubungkan keduanya,” ungkapnya.
Kolaborasi ITS dan UniMAP menjadi salah satu langkah awal dalam perjalanan membangun ekosistem semikonduktor Indonesia. Penguatan kapasitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi menjadi fondasi yang dapat dikembangkan untuk tahap berikutnya.
“Seperti benih yang membutuhkan tanah, air, nutrisi, dan waktu untuk tumbuh, ekosistem semikonduktor juga memerlukan konsistensi dan kesinambungan. Kolaborasi ITS–UniMAP adalah salah satu benih yang sedang disemai. Harapannya, benih kecil ini kelak ikut tumbuh menjadi bagian dari ekosistem semikonduktor Indonesia yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan,” pungkas Agung.
Penguatan kapasitas teknologi semikonduktor melalui pendidikan, riset, dan kolaborasi internasional tersebut sejalan dengan beberapa poin dalam Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas, poin ke-9 mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta poin ke-17 terkait Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.



