Example 728x250
Artikel

Ijazah Mulai Bukan Satu-satunya Tiket Kerja, Kredensial Digital Kian Diperhitungkan

5
×

Ijazah Mulai Bukan Satu-satunya Tiket Kerja, Kredensial Digital Kian Diperhitungkan

Sebarkan artikel ini
Kredensial Kabarphatas
Gambar ilustrasi

KABARPHATAS.COM, SURABAYA – Ijazah perguruan tinggi selama ini menjadi salah satu tiket utama seseorang untuk memasuki dunia kerja. Gelar sarjana atau diploma kerap menjadi persyaratan awal dalam proses rekrutmen, terutama untuk pekerjaan yang membutuhkan kualifikasi akademik tertentu.

Namun, perubahan teknologi dan kebutuhan industri mulai menggeser cara perusahaan membaca kompetensi calon pekerja.

Kemampuan seseorang kini semakin sering dinilai bukan hanya berdasarkan gelar akademik yang tercantum dalam curriculum vitae, tetapi juga berdasarkan keterampilan yang dapat dibuktikan melalui pengalaman, sertifikasi, portofolio, hingga berbagai kredensial digital.

Fenomena tersebut melahirkan apa yang dikenal sebagai kredensial alternatif atau alternative credentials.

Bentuknya beragam. Mulai dari microcredential, digital badge, sertifikat kursus online, sertifikasi profesi, hingga portofolio digital yang memperlihatkan hasil pekerjaan seseorang.

Kredensial alternatif tidak berarti ijazah formal akan segera kehilangan fungsi. Justru, keduanya berpotensi berjalan berdampingan dengan fungsi yang berbeda.

Ijazah memberikan gambaran mengenai latar belakang dan proses pendidikan seseorang. Sementara kredensial alternatif dapat menunjukkan kompetensi yang lebih spesifik dan relevan dengan kebutuhan pekerjaan tertentu.

Perubahan tersebut tidak dapat dilepaskan dari cepatnya perkembangan teknologi.

Kurikulum perguruan tinggi membutuhkan waktu untuk diperbarui. Sementara teknologi seperti artificial intelligence, cloud computing, cybersecurity, data analytics, dan berbagai teknologi digital berkembang dengan sangat cepat.

Keterampilan yang dianggap penting beberapa tahun lalu belum tentu memiliki tingkat kebutuhan yang sama saat ini.

Microcredential kemudian menjadi salah satu instrumen untuk menjembatani kesenjangan tersebut.

Seseorang dapat mengikuti program pembelajaran khusus untuk menguasai kompetensi tertentu tanpa harus kembali menempuh pendidikan formal selama beberapa tahun.

Bagi pekerja, pola tersebut memberikan fleksibilitas. Mereka dapat melakukan upskilling untuk memperdalam kompetensi yang sudah dimiliki atau reskilling untuk mempelajari keterampilan baru yang dibutuhkan ketika berpindah bidang pekerjaan.

Dunia kerja pun mulai mengenal pendekatan skills-based hiring atau rekrutmen berbasis keterampilan.

Dalam pendekatan ini, perusahaan tidak hanya melihat latar belakang pendidikan, tetapi juga mempertimbangkan kemampuan nyata kandidat dalam menjalankan pekerjaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *