KABARPHATAS.COM, SURABAYA – Tanggul penahan lumpur di kawasan Porong, Sidoarjo, menghadapi tantangan yang tidak terlihat secara kasatmata. Penurunan tanah yang berlangsung perlahan, perubahan kondisi lingkungan, hingga faktor cuaca menjadi ancaman yang membutuhkan sistem pemantauan lebih presisi.
Kondisi itu mendorong Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan Sidoarjo Disaster Assessment AI (SIDA-AI), teknologi berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk membantu memantau kondisi tanggul secara lebih cepat dan menyeluruh.
SIDA-AI menggabungkan teknologi citra Unmanned Aerial Vehicle (UAV) atau drone dengan sensor Internet of Things (IoT). Sistem tersebut juga memanfaatkan data prakiraan cuaca untuk membaca berbagai faktor yang berpengaruh terhadap tingkat risiko di kawasan tanggul.
Tim pengembang SIDA-AI Kurnia Cahya Febryanto SKom MKom menjelaskan, persoalan utama yang dihadapi kawasan tanggul adalah perubahan kondisi tanah yang terus terjadi.
Berdasarkan catatan Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS), titik paling rentan mengalami penurunan muka tanah rata-rata 0,5 meter per tahun.
Sementara itu, sepanjang tanggul dengan panjang sekitar 11 kilometer mengalami laju penurunan tanah yang bervariasi antara 20 hingga 50 sentimeter per tahun.
“Risiko diperparah dengan kapasitas alir Kali Porong yang mengalami penyempitan akibat sedimentasi sungai,” ujar Kurnia.
Menurut dia, sistem inspeksi berkala yang selama ini dilakukan memiliki keterbatasan untuk menangkap perubahan yang berlangsung secara bertahap. Kondisi tertentu yang tampak normal dapat menyimpan potensi risiko apabila tidak dianalisis dengan menggabungkan berbagai indikator.
Jarak bebas tanggul yang semakin menipis, kondisi muka air, serta potensi hujan lebat menjadi beberapa faktor yang perlu diperhitungkan secara bersamaan.
“Gabungan dari kondisi-kondisi tersebut membuatnya semakin berbahaya,” kata Kurnia yang juga mahasiswa program doktoral Departemen Teknik Informatika ITS.
Melalui SIDA-AI, ITS mencoba menghadirkan pendekatan pemantauan berbasis agentic artificial intelligence (AI). Sistem ini bekerja dengan menggabungkan data hasil pengamatan lapangan dan analisis kecerdasan buatan untuk menghasilkan gambaran kondisi tanggul secara real time.
Kurnia mengatakan, integrasi berbagai sumber data menjadi bagian penting dalam sistem tersebut karena risiko tidak hanya ditentukan oleh satu indikator, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi berbagai kondisi lingkungan.
“Dengan mengintegrasikan berbagai sumber data, SIDA-AI menghubungkannya dengan faktor lingkungan yang memengaruhi tingkat risiko,” jelasnya.
Pengembang perangkat keras SIDA-AI Irfan Mirda ST MKom menjelaskan, teknologi tersebut memiliki arsitektur dua lapis.
Lapisan pertama berfungsi sebagai sistem persepsi yang mengolah data pengamatan menggunakan sejumlah model deterministik.
Pada lapisan ini, sistem menganalisis citra UAV untuk mengenali kondisi fisik tanggul, seperti retakan, rembesan, dan tingkat saturasi tanah.
Sistem juga menghitung sisa freeboard serta laju penurunan tanah melalui metode DEM differencing menggunakan citra UAV multitemporal.
Selain data visual, sensor IoT digunakan untuk membaca kondisi muka air dan pendangkalan Kali Porong secara langsung.
“Sementara itu, sensor IoT digunakan untuk memantau muka air dan pendangkalan Kali Porong secara real time,” terang Irfan.
Data dari lapisan persepsi kemudian diteruskan ke lapisan agentic AI. Lapisan ini bertugas mengolah seluruh indikator untuk menilai tingkat risiko pada setiap segmen tanggul sekaligus menyusun rekomendasi tindakan.
Irfan menjelaskan, rekomendasi yang dihasilkan sistem tetap mengacu pada prosedur penanganan PPLS. Untuk menjaga kesesuaian tersebut, SIDA-AI menggunakan pendekatan Retrieval-Augmented Generation (RAG) sebagai dasar pengambilan informasi prosedural.
Pengembangan teknologi ini sebelumnya meraih Juara 1 AIDeaNation 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Selain menjadi inovasi teknologi mitigasi bencana, SIDA-AI juga mendukung agenda ITS dalam pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 11 mengenai Kota dan Permukiman Berkelanjutan serta poin 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
Tim pengembang berharap SIDA-AI dapat segera memasuki tahap pengujian dan implementasi bersama PPLS untuk mendukung sistem pemantauan kondisi tanggul Lumpur Sidoarjo.



