Example 728x250
Pendidikan

FKH UNAIR Dampingi Peternak Bojonegoro Kembangkan Budidaya Bebek dan Lele

8
×

FKH UNAIR Dampingi Peternak Bojonegoro Kembangkan Budidaya Bebek dan Lele

Sebarkan artikel ini
Unair Kabarphatas

KABARPHATAS.COM, SURABAYA – Keterbatasan air yang menghambat budidaya lele mendorong Yunus, peternak asal Desa Sedeng, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, mencari alternatif usaha. Ia mulai melirik peternakan terpadu dengan menggabungkan pemeliharaan bebek dan lele dalam satu lokasi melalui teknik tumpangsari.

Gagasan tersebut muncul setelah Yunus mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR) di Desa Sedeng, Sabtu, 17 Oktober 2026.

Ia berharap kombinasi dua komoditas itu dapat menjadi pilihan usaha yang lebih efisien sekaligus membuka peluang memperoleh hasil panen dari sektor perikanan dan peternakan.

“Saya tertarik mencoba gayatri atau ternak bebek juga karena sepertinya itu yang sedang tren saat ini,” ungkap Yunus.

Sebelum mempertimbangkan usaha terpadu, Yunus lebih dahulu menjalankan budidaya lele.

Namun, keterbatasan pasokan air menghambat pertumbuhan ikan sehingga hasil panennya belum memuaskan. Ia terakhir memanen lele pada awal 2026 dan mengikuti pelatihan untuk memperoleh pengetahuan tentang pemberian pakan yang lebih sesuai.

Setelah mengenali potensi peternakan warga Desa Sedeng, Yunus mulai mempertimbangkan sistem pemeliharaan bebek dan lele secara bersamaan.

Dalam konsep yang dirancangnya, bebek ditempatkan di bagian atas, sedangkan lele dipelihara di bagian bawah. Kotoran bebek diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi bagi ikan.

Ketua pelaksana pengabdian masyarakat FKH UNAIR, Prof. Dr. Sunaryo Hadi Warsito, drh., MP., menilai gagasan tersebut menarik karena membuka peluang bagi peternak untuk mengembangkan dua komoditas dalam satu lokasi.

Meski demikian, ia menyarankan penggunaan kandang baterai untuk pemeliharaan bebek karena dinilai lebih sesuai dengan kondisi Desa Sedeng.

“Menurut saya teknik ini dapat dilakukan, namun peternak perlu memperhatikan kebersihan dan kesehatan yang sangat ketat agar kualitas masing-masing panen tetap terjaga,” jelasnya.

Menurut dia, penerapan peternakan terpadu perlu memperhatikan pengelolaan lingkungan serta kesehatan ternak.

Kedua aspek tersebut menjadi perhatian agar pengembangan sistem pemeliharaan tidak mengabaikan kualitas hasil produksi.

Untuk mendukung kualitas ternak, Prof. Hadi juga menyebut premiks omega dan tepung cacing yang kaya omega sebagai alternatif bahan pendukung nutrisi.

Melalui pendampingan tersebut, FKH UNAIR berharap peternak dapat mengembangkan usaha dengan pengetahuan yang tepat serta menyesuaikan inovasi peternakan dengan kondisi dan potensi lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *