Example 728x250
Pendidikan

SafeLight Tsunami Route, Inovasi Mahasiswa UNUSA, Hadapi Ancaman Tsunami

6
×

SafeLight Tsunami Route, Inovasi Mahasiswa UNUSA, Hadapi Ancaman Tsunami

Sebarkan artikel ini
UNUSA Kabarphatas

KABARPHATAS.COM, SURABAYA – Ketika gempa terjadi di kawasan pesisir, informasi mengenai kondisi lingkungan menjadi bagian penting dalam menentukan langkah evakuasi. Berangkat dari kebutuhan tersebut, lima mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) mengembangkan SafeLight Tsunami Route, prototipe rambu evakuasi yang memanfaatkan sensor untuk membaca kondisi lingkungan dan memberikan indikator secara real-time.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh mahasiswa Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) UNUSA. SafeLight Tsunami Route berhasil memperoleh pendanaan dalam Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) 2026, salah satu skema Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Kemdiktisaintek.

Kelima mahasiswa tersebut adalah Rofiq Arroyan, Nadea Putri Wahyuni, Cicilia Febriana Mayangsari, Rachmalia Eka Putri, dan Angga Adi Nugroho. Pengembangan inovasi dilakukan di bawah bimbingan dosen Merry Sunaryo, S.K.M., M.KKK.

Gagasan SafeLight Tsunami Route muncul dari upaya mengembangkan fungsi rambu evakuasi yang selama ini pada umumnya hanya memberikan informasi arah secara statis. Tim merancang rambu yang dapat memberikan respons berdasarkan data yang diterima dari sensor di lingkungan.

“SafeLight Tsunami Route mengintegrasikan teknologi sensor, sistem monitoring, serta indikator visual dan suara untuk membantu menyampaikan informasi mengenai kondisi bencana kepada masyarakat,” ujar tim pengembang.

Perangkat tersebut menggabungkan subsistem darat dan subsistem laut. Pada bagian darat, mikrokontroler ESP32 dipadukan dengan sensor getaran MPU6050 untuk membaca aktivitas atau getaran yang berkaitan dengan gempa.

Adapun pada subsistem laut digunakan sensor pelampung untuk memantau perubahan muka air laut sebagai salah satu parameter dalam sistem peringatan.

Data dari kedua bagian tersebut kemudian diproses untuk menentukan kondisi yang akan ditampilkan oleh sistem indikator.

Indikator dirancang dengan tiga kondisi. Lampu hijau menunjukkan kondisi aman. Ketika sistem mendeteksi kondisi gempa atau kewaspadaan, lampu kuning menyala disertai sirine.

Sedangkan lampu merah dengan sirine berintensitas lebih tinggi digunakan untuk menunjukkan indikasi potensi tsunami dan perlunya mengikuti prosedur evakuasi.

SafeLight Tsunami Route juga dilengkapi sistem monitoring. Data sensor dikirimkan melalui modem MiFi menuju sistem pemantauan sehingga informasi kondisi perangkat dapat dipantau secara real-time.

Tingkat guncangan yang terdeteksi ditampilkan menggunakan Modified Mercalli Intensity (MMI). Informasi tersebut menjadi bagian dari sistem penyajian kondisi lingkungan yang dikembangkan oleh tim.

Dari sisi kebutuhan energi, perangkat menggunakan panel surya sebagai sumber energi mandiri. Energi dari panel surya diatur melalui solar charge controller sebelum disimpan dalam baterai.

Sementara kebutuhan daya setiap komponen elektronik disesuaikan menggunakan konverter tegangan.

Penggunaan di lingkungan pesisir juga menjadi pertimbangan dalam desain perangkat. Komponen elektronik utama ditempatkan dalam box pelindung sebagai bagian dari penyesuaian terhadap kondisi lingkungan tempat prototipe dikembangkan.

SafeLight Tsunami Route telah melalui tahap perakitan dan pengujian. Dari proses tersebut, tim melakukan evaluasi dan penyempurnaan terhadap sejumlah bagian, termasuk rangkaian elektronik, konfigurasi LED RGB, pemrograman sistem monitoring, serta penyajian informasi tingkat guncangan menggunakan skala MMI.

Bagi tim pengembang, inovasi tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu K3 dalam bidang kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.

“Melalui pendekatan berbasis teknologi, kami tidak hanya mengembangkan perangkat, tetapi juga berupaya menghadirkan solusi yang dapat mendukung penyampaian informasi dalam situasi darurat,” kata tim.

Tim berharap prototipe tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai perangkat pendukung penyampaian informasi kondisi bencana dan evakuasi, khususnya bagi masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di wilayah pesisir yang memiliki potensi gempa bumi dan tsunami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *