Bupati Lumajang Indah Amperawati Masdar menyatakan kebanggaannya atas kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Lumajang sebagai tuan rumah PORSADIN VII Jawa Timur.
Atas nama pemerintah daerah dan masyarakat, ia menyambut kedatangan santri, pembina, dan ofisial dari 35 kabupaten dan kota se-Jawa Timur.
Indah juga mengajak peserta dan tamu untuk mengenal sejumlah destinasi wisata di Lumajang. Salah satu yang diperkenalkannya adalah Tumpak Sewu, yang disebut sebagai salah satu destinasi wisata unggulan daerah tersebut.
Selain wisata, Indah memperkenalkan kekayaan budaya Lumajang melalui Tari Topeng Kaliwungu yang ditampilkan dalam pembukaan PORSADIN. Tarian tersebut telah mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda.
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (DPP FKDT) Lukman Hakim menyoroti pentingnya perhatian terhadap kesejahteraan ustaz Madrasah Diniyah Takmiliyah.
Menurut Lukman, perhatian terhadap Madrasah Diniyah Takmiliyah di Jawa Timur relatif lebih besar dibandingkan sejumlah daerah lain. Ia menyebut para ustaz memiliki kontribusi dalam menjaga kehidupan sosial keagamaan masyarakat agar tetap aman, damai, harmonis, dan toleran.
“Bangsa Indonesia harus berterima kasih kepada para Ustaz Madrasah Diniyah Takmiliyah. Melalui perjuangan mereka, Indonesia menjadi negara yang aman, damai, harmonis, dan toleransinya dapat terjaga dengan baik,” ujar Lukman.
Ia juga menyoroti ketulusan para ustaz yang tetap mengabdikan diri meski kesejahteraan dan honor yang diterima masih terbatas. Menurut Lukman, pengabdian tersebut merupakan nilai yang patut diteladani.
Lukman berharap dukungan pemerintah daerah terhadap Madrasah Diniyah Takmiliyah terus ditingkatkan. Ia juga mengajak para ustaz, khususnya di Lumajang, bersinergi dan mendukung berbagai program pemerintah daerah demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam pelaksanaan PORSADIN, Lukman menekankan pentingnya fair play dan kejujuran. Menurut dia, sikap ustaz, pembina, juri, dan seluruh pihak yang terlibat akan menjadi contoh bagi para santri.
“Kalau kita memberikan contoh kecurangan dan tidak fair, maka akan sulit bagi kita mengajak mereka menjadi pribadi yang jujur dan berintegritas,” katanya.
Lukman menyebut PORSADIN telah menjadi wadah pembinaan yang mampu melahirkan talenta berkualitas. Ia mencontohkan Septian, atlet tenis meja asal Lumajang yang menjadi juara pertama PORSADIN Nasional di Pasuruan pada 2017 dan kini berkembang menjadi atlet nasional.
Capaian tersebut, menurut Lukman, menunjukkan bahwa pembinaan melalui PORSADIN memiliki prospek untuk melahirkan atlet dan talenta berprestasi di tingkat nasional.
Karena itu, ia mendorong pembinaan terhadap para juara PORSADIN dilakukan secara berkelanjutan. Santri yang telah berprestasi di tingkat daerah, kata dia, perlu terus diasah agar mampu berkompetisi hingga tingkat nasional maupun internasional.
“Jangan hanya berhenti pada juara dua atau juara tiga. Kita harus berupaya mencetak juara satu,” kata Lukman.



