KABARPHATAS.COM, SURABAYA – Tim Market Kings yang beranggotakan tiga mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (UNAIR) meraih juara tiga lomba Business Case dalam ajang KSEI Youth Innovation Festival 5.0 tingkat nasional.
Kompetisi tersebut merupakan kolaborasi KSEI ISEEN FEB Universitas Muhammadiyah Purwokerto dan KSEI FEBI UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto, dengan Prudential Syariah sebagai kolaborator kasus. Bagi Market Kings, kompetisi ini menjadi pengalaman kedua mereka mengikuti business case competition.
Tim tersebut terdiri atas Muhammad Mu’adz Fahad sebagai ketua, Fadlan Abdulgani, dan Fahreza Putra Syah. Ketiganya melihat persoalan asuransi syariah yang diangkat dalam kompetisi sebagai dua tantangan yang saling berkaitan.
Mu’adz menjelaskan, kasus yang diberikan Prudential Syariah berkaitan dengan kondisi jaringan agen yang menghadapi penurunan jumlah sekaligus belum optimalnya regenerasi tenaga pemasar muda.
Pada saat yang sama, penetrasi asuransi syariah di kalangan masyarakat muslim masih berada di bawah satu persen, dengan Gen Z menjadi salah satu segmen yang paling belum terjangkau proteksi.
Menurut Market Kings, kedua persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan secara terpisah. Perbaikan produk tanpa memperkuat jaringan agen dinilai belum menjawab persoalan regenerasi tenaga pemasar. Sebaliknya, perekrutan agen baru tidak akan cukup apabila minat Gen Z terhadap asuransi syariah belum tumbuh.
“Kalau kami hanya memperbaiki produk, masalah agen belum selesai, dan kalau hanya merekrut agen, masalah minat Gen Z terhadap asuransi juga belum selesai,” kata Mu’adz.
Dari persoalan tersebut, Market Kings merumuskan Gen-Amanah Ecosystem, sebuah konsep yang mengintegrasikan product, people, process, dan price atau 4P dalam satu ekosistem.
Nama Gen-Amanah dipilih untuk merepresentasikan dua unsur utama konsep tersebut. Kata “Gen” merujuk pada Gen Z yang ditempatkan sebagai target sekaligus penggerak perubahan. Sementara “Amanah” merepresentasikan nilai kepercayaan dan taawun yang menjadi fondasi asuransi syariah.
Konsep ekosistem tersebut juga dirancang untuk menghubungkan komunitas, ambassador, agen, nasabah, dan teknologi digital dalam satu jaringan.
Dengan pendekatan itu, solusi yang ditawarkan tidak berhenti pada satu program, tetapi menghubungkan sejumlah elemen yang dianggap saling memperkuat.
Dalam merancang strateginya, Market Kings menggunakan pendekatan 4P Marketing Mix dengan sasaran komunitas kampus, seperti LDK, BEM, dan komunitas halal lifestyle.
Pada aspek product, tim mengusulkan GenShield Takaful, produk asuransi mikro modular dengan premi mulai Rp50.000 hingga Rp200.000. Produk tersebut dilengkapi dashboard real-time untuk memantau dana tabarru’.
Pada aspek people, Market Kings mengusulkan perekrutan Campus Ambassador Agent dari komunitas kampus.
Para agen tersebut akan memperoleh pelatihan melalui aplikasi microlearning dan pendampingan mentor dengan rasio satu mentor untuk lima agen selama 90 hari.
Sementara itu, aspek process dirancang melalui mekanisme pembelian polis secara instan dalam tiga klik menggunakan kalkulator proteksi digital dan WhatsApp.
Strategi tersebut dilengkapi roadshow dan talkshow di lingkungan kampus.
Untuk aspek price, tim menawarkan fleksibilitas pembayaran melalui e-wallet dan QRIS, serta opsi pembayaran per semester bagi nasabah pelajar.
Pendekatan berbasis komunitas menjadi salah satu elemen utama dalam konsep yang ditawarkan Market Kings. Menurut Mu’adz, Community-First Approach dinilai selaras dengan prinsip taawun sekaligus karakter Gen Z yang cenderung lebih mempercayai rekomendasi sosial dibandingkan promosi brand secara konvensional.
“Kata ekosistem yang dipilih ini juga menegaskan bahwa solusi ini bukan sekadar program tunggal, melainkan jaringan komunitas, ambassador, agen, nasabah, dan teknologi digital yang bekerja secara bersamaan,” ujar Mu’adz.
Setelah meraih juara tiga dalam kompetisi tingkat nasional tersebut, Market Kings tidak langsung menganggap konsep yang mereka susun telah selesai. Tim berencana memperdalam riset mengenai kebutuhan Gen Z melalui survei dan diskusi bersama komunitas untuk menguji sejumlah asumsi yang digunakan dalam business case.
Jika hasil validasi dinilai cukup kuat, konsep Gen-Amanah Ecosystem tersebut berpotensi dikembangkan menjadi proyek komunitas berskala kecil atau digunakan sebagai bahan persiapan dalam kompetisi berikutnya.



