KABARPHATAS.COM, SOLO – Ketika rangkaian Maulid dan doa dalam Haul Solo 2026 selesai, ribuan tangan mulai bergerak. Bukan untuk meninggalkan kawasan masjid, melainkan membawa nasi kotak menuju jemaah yang sejak dini hari memenuhi berbagai sudut Kota Solo.
Pembagian konsumsi itu berlangsung secara manual dan estafet. Relawan Majelis Ar-Rohimin Surabaya bersama simpatisan jemaah membawa nasi kotak dari satu titik ke titik lain, menyusuri kerumunan hingga gang-gang di sekitar Masjid Assegaf dan Masjid Riyadh, Minggu (4/10/2026).
Pola distribusi tersebut memang sengaja dilakukan setelah rangkaian Maulid dan doa selesai.
Tujuannya sederhana, tetapi penting: pembagian konsumsi tidak boleh mengganggu kekhidmatan jemaah yang sedang mengikuti rangkaian acara Haul.
Tahun ini, Majelis Ar-Rohimin menyiapkan 15 ribu porsi nasi kotak dan 30 ribu paket kudapan untuk para peziarah.
Jumlah nasi kotak tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 12 ribu porsi.
Lonjakan itu mengikuti meningkatnya jumlah jemaah yang datang ke Solo. Mereka berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah negara untuk mengikuti rangkaian Haul Solo 2026.
Namun, sebelum nasi kotak sampai ke tangan jemaah, ada proses panjang yang berlangsung sejak dini hari.
Sejumlah pelaku UMKM di sekitar kawasan Masjid Assegaf dan Masjid Riyadh dilibatkan dalam penyediaan makanan.
Mereka bertugas memproduksi dan mengumpulkan nasi kotak di posko utama yang telah disiapkan Majelis Ar-Rohimin.
Keterlibatan UMKM menjadi bagian dari konsep kegiatan yang dirancang pembina Majelis Ar-Rohimin, Haji Abdul Rohim.
Pengadaan konsumsi tidak seluruhnya diserahkan kepada katering berskala besar, melainkan melibatkan pelaku usaha lokal.
Dengan pola tersebut, kegiatan sosial yang menyerap kebutuhan makanan dalam jumlah besar juga memberikan ruang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“UMKM kita libatkan supaya kegiatan ini juga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat sekitar. Mereka menyiapkan makanan dan mengumpulkannya di posko utama, kemudian distribusi kepada jemaah dilakukan oleh relawan,” kata Abdul Rohim.
Setelah nasi kotak terkumpul, tugas berikutnya berpindah ke tim relawan Majelis Ar-Rohimin. Bersama simpatisan jemaah yang ikut membantu, mereka mengambil makanan dari posko utama dan membawanya menuju lokasi-lokasi jemaah.
Distribusi dilakukan tanpa pengerahan kendaraan besar yang berpotensi mengganggu arus peziarah.
Nasi kotak dibawa secara manual, kemudian diteruskan dari satu relawan ke relawan lainnya.
Sistem estafet menjadi pilihan karena kondisi kawasan sekitar masjid dipenuhi jemaah. Gang-gang sempit dan padatnya pergerakan manusia membuat distribusi harus dilakukan dengan cara yang fleksibel.
Relawan berjalan membawa kardus maupun sejumlah nasi kotak, kemudian membagikannya kepada jemaah yang berada di titik-titik yang telah ditentukan.



