Setelah satu bagian selesai, mereka kembali ke posko untuk mengambil konsumsi berikutnya.
Proses itu berlangsung setelah rangkaian acara Maulid dan doa berakhir. Penentuan waktu pembagian menjadi bagian dari penghormatan terhadap suasana ibadah dan kekhidmatan Haul.
“Kami memang menunggu sampai acara Maulid dan doa selesai. Jangan sampai niat kita berbagi makanan justru mengganggu kekhusyukan jemaah yang sedang mengikuti acara,” ujar Abdul Rohim.
Dari posko utama, nasi kotak kemudian bergerak mengikuti pola yang telah dikoordinasikan relawan.
Sebagian diarahkan ke kawasan sekitar masjid, sebagian lainnya dibawa masuk ke gang-gang permukiman yang dipenuhi jemaah.
Jangkauan distribusi mencapai sejumlah titik dalam radius sekitar dua kilometer dari kawasan utama. Relawan harus berjalan kaki dan menyesuaikan pergerakan dengan kepadatan jemaah.
Di lapangan, simpatisan jemaah ikut mengambil peran. Mereka membantu membawa, meneruskan, dan membagikan nasi kotak kepada peziarah.

Tidak ada pembagian peran yang rumit. Ketika ada kardus yang harus dipindahkan, tangan lain segera membantu.
Kondisi tersebut membuat distribusi belasan ribu nasi kotak berlangsung dengan pola gotong royong.
Relawan Majelis Ar-Rohimin menjadi penggerak utama, sementara simpatisan jemaah membantu mempercepat pergerakan konsumsi dari posko menuju titik-titik pembagian.
Abdul Rohim mengatakan pola tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara kegiatan sosial dan penghormatan terhadap rangkaian Haul.
Menurut dia, berbagi konsumsi kepada jemaah merupakan bagian dari kepedulian. Tetapi pelaksanaannya tetap harus memperhatikan situasi di lapangan, terutama ketika ribuan jemaah sedang mengikuti acara utama.
“Yang paling penting bukan hanya makanannya sampai. Cara membagikannya juga harus menghormati acara dan jemaah. Karena itu kami lakukan setelah Maulid dan doa selesai,” katanya.
Sementara itu, para pelaku UMKM menyelesaikan tugas mereka di posko utama. Nasi kotak yang datang dari sejumlah titik dikumpulkan sebelum kemudian diambil secara bertahap oleh tim relawan.
Dari posko tersebut, ribuan nasi kotak kembali bergerak. Kardus diangkat, diteruskan dari satu tangan ke tangan lainnya, lalu dibawa menyusuri kerumunan jemaah.
Di tengah padatnya kawasan Masjid Assegaf dan Masjid Riyadh, distribusi berlangsung dengan ritme yang terukur.
Satu kelompok relawan kembali ke posko ketika persediaan yang dibawa telah habis, sementara kelompok lain melanjutkan pembagian di titik berikutnya.



