KABARPHATAS.COM, SURABAYA – Ada kalanya diam lebih bernilai daripada seribu kata. Bukan karena seseorang tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan, melainkan karena ia memahami bahwa tidak setiap perkataan harus keluar dari lisan.
Pesan itu mengemuka dalam kajian rutin Majelis Ar-Rohimin, Rabu malam (23/9/2026). Pengasuh Majelis Ar-Rohimin Habib Musthofa bin Zein Al-Alydrus mengajak jemaah menyelami kembali pentingnya menjaga lisan melalui pembahasan kitab Maroqil ‘Ubudiyah, syarah atas Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali.
Lisan, dalam kajian tersebut, bukan perkara sederhana. Ia bisa menjadi jalan menuju kebaikan. Tetapi pada saat yang sama, lisan juga dapat menjadi sumber persoalan ketika digunakan tanpa kendali.
Di situlah diam mendapatkan tempatnya.
Bukan sekadar tidak berbicara, tetapi kemampuan seseorang menahan diri sebelum sebuah kalimat terlanjur diucapkan.
Ketika diam lebih berharga daripada perak
Pembahasan malam itu diawali dengan sebuah syair yang dinisbatkan kepada Ibrahim al-Ataki:
قَالُوا سُكُوتُكَ حِرْمَانٌ فَقُلْتُ لَهُمْ
مَا قَدَّرَ اللَّهُ يَأْتِينِي بِلَا نَصَبِ
وَلَوْ يَكُونُ كَلَامِي حِينَ أَنْشُرُهُ
مِنَ اللُّجَيْنِ لَكَانَ الصَّمْتُ مِنْ ذَهَبِ
Syair tersebut menggambarkan satu prinsip penting dalam menjaga diri: diam tidak selalu berarti kehilangan.
Apa yang telah ditetapkan Allah bagi seseorang akan sampai kepadanya. Tidak selalu membutuhkan kegaduhan, pembelaan berlebihan, atau perkataan yang tidak perlu.
Bahkan jika perkataan itu bernilai tinggi, ada keadaan tertentu ketika diam justru lebih utama.
“Seandainya perkataanku ketika aku menyampaikannya terbuat dari perak, niscaya diam itu tetap terbuat dari emas.”
Pesan syair tersebut terasa sederhana. Namun jika ditarik ke kehidupan sehari-hari, maknanya cukup dalam.
Seseorang tidak hanya diuji melalui apa yang dikatakannya. Ia juga diuji melalui apa yang mampu ditahannya untuk tidak dikatakan.
Tujuh ribu kebaikan dalam diam
Habib Musthofa kemudian menjelaskan sejumlah keutamaan diam yang dibahas dalam khazanah akhlak Islam.
Disebutkan terdapat tujuh ribu kebaikan yang terkandung dalam diam dan terangkum dalam tujuh perkara utama.
Diam menjadi ketenangan tanpa kelelahan. Menjadi perhiasan tanpa membutuhkan hiasan. Menjadi kewibawaan tanpa kekuasaan.
Diam juga disebut sebagai benteng tanpa penjaga.



