Example 728x250
Syiar Syair

Kajian Maroqil ‘Ubudiyah Majelis Ar-rohimin: Tujuh Keutamaan Diam Dibahas Habib Musthofa

23
×

Kajian Maroqil ‘Ubudiyah Majelis Ar-rohimin: Tujuh Keutamaan Diam Dibahas Habib Musthofa

Sebarkan artikel ini
Majelis Ar-Rohimin Kabarphatas
Suasana saat pengajian rutin Majelis Ar-Rohimin.

Dengan lebih sedikit berbicara, seseorang memiliki lebih sedikit kemungkinan melakukan kesalahan kepada orang lain. Konsekuensinya, kebutuhan untuk meminta maaf pun dapat berkurang.

Diam juga memberikan ketenangan bagi para malaikat pencatat amal serta menjadi penutup terhadap aib dan kekurangan seseorang.

Dalam konteks tersebut dikenal ungkapan:

الصَّمْتُ زَيْنٌ لِلْعَالِمِ وَسِتْرٌ لِلْجَاهِلِ

“Diam adalah perhiasan bagi orang berilmu dan penutup bagi orang yang tidak berilmu.”

Diam, dengan demikian, tidak identik dengan kelemahan.

Justru sebaliknya. Pada kondisi tertentu, diam membutuhkan pengendalian diri yang jauh lebih besar daripada berbicara.

Tiga perkara yang dapat mengeraskan hati

Pembahasan kemudian menyentuh persoalan yang lebih mendasar: kondisi hati manusia.

Dalam kajian tersebut dijelaskan tiga perkara yang dapat menjadi sebab kerasnya hati seseorang. Yakni tertawa tanpa sebab yang pantas, makan tanpa rasa lapar, dan berbicara tanpa adanya kebutuhan.

Ketiganya menunjukkan pentingnya pengendalian diri.

Bukan berarti tertawa, makan, atau berbicara merupakan sesuatu yang dilarang. Persoalannya terletak pada kebiasaan melakukan sesuatu tanpa ukuran dan tanpa pertimbangan.

Termasuk dalam berbicara

Tidak semua yang diketahui perlu disampaikan. Tidak semua yang benar harus diucapkan. Dan tidak semua kesempatan berbicara harus digunakan.

Ada kalanya seseorang justru menunjukkan kedewasaan melalui kemampuannya berhenti berbicara.

Satu kalimat bisa menjadi masalah

Persoalan lisan menjadi semakin kompleks dalam kehidupan sosial modern.

Sebab, perkataan kini tidak berhenti ketika suara menghilang. Kalimat dapat ditulis, dikirim, dibagikan, dikomentari, lalu beredar jauh melampaui orang yang pertama kali mendengarnya.

Karena itu, pesan tentang menjaga lisan tidak hanya relevan dalam percakapan langsung.

Ia juga menyentuh cara seseorang berkomunikasi di ruang digital.

Ghibah, fitnah, mencela, membuka aib, hingga menyebarkan pembicaraan yang tidak memberikan manfaat dapat berawal dari sesuatu yang dianggap sepele.

Satu komentar. Satu pesan. Satu kalimat.

Karena itu, kehati-hatian sebelum berbicara menjadi bagian dari menjaga akhlak.

Benar saja tidak cukup

Dalam kajian akhlak, ukuran sebuah ucapan tidak berhenti pada benar atau salah.

Sebelum berbicara, seseorang perlu mempertimbangkan apakah perkataan tersebut benar, apakah bermanfaat, apakah diperlukan, dan apakah akan mendatangkan kebaikan.

Pertanyaan semacam itu menjadi semacam rem sebelum lisan bergerak lebih jauh.

Sebab, sebuah ucapan yang benar pun dapat menjadi tidak tepat apabila disampaikan tanpa mempertimbangkan waktu, tempat, kondisi, dan perasaan orang lain.

Karena itu, kemampuan menjaga lisan bukan sekadar kemampuan mengurangi jumlah kata.

Lebih jauh, ia merupakan kemampuan memilih kata.

Memilih kapan harus berbicara. Memilih kepada siapa perkataan disampaikan. Memilih bagaimana sebuah kebenaran disampaikan. Dan mengetahui kapan diam justru lebih menyelamatkan.

Diam bukan berarti kalah

Dalam kehidupan sosial, orang yang memilih diam terkadang dianggap kalah.

Tidak sedikit yang menganggap seseorang harus selalu memberikan respons agar tidak dipandang lemah.

Padahal, dalam perspektif akhlak Islam, diam pada tempatnya dapat menjadi bentuk kebijaksanaan.

Diam dapat menjadi cara seseorang menjaga dirinya dari ghibah.

Menjaga diri dari fitnah.

Menjaga diri dari mencela.

Menjaga diri dari membuka aib orang lain.

Dan yang tidak kalah penting, menjaga diri dari perkataan yang kelak justru harus dipertanggungjawabkan.

Di sinilah menjaga lisan bertemu dengan introspeksi.

Seseorang tidak hanya belajar mengatur apa yang keluar dari mulutnya. Ia juga belajar mengenali dorongan yang muncul sebelum perkataan itu dilahirkan.

Kajian Maroqil ‘Ubudiyah yang disampaikan Habib Musthofa tersebut membawa pembahasan menjaga lisan dari sekadar persoalan etika berbicara menjadi bagian dari perjalanan memperbaiki akhlak.

Jemaah diajak melihat kembali kebiasaan sehari-hari: berapa banyak perkataan yang benar-benar diperlukan, berapa banyak yang membawa manfaat, dan berapa banyak yang sebenarnya lebih baik ditahan.

Majelis Ar-Rohimin melalui kajian rutinnya terus membuka ruang pembelajaran keagamaan yang menghubungkan khazanah tasawuf dengan persoalan kehidupan sehari-hari.

Malam itu, pembahasan tentang lisan kembali mengingatkan bahwa kualitas seseorang tidak selalu terlihat dari banyaknya kata yang mampu ia susun.

Kadang, kualitas itu justru terlihat dari satu keputusan sederhana: memilih diam ketika berbicara tidak lagi membawa kebaikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *