Example 728x250
Pendidikan

Peringatan Maulid Nabi SD Khadijah Wonorejo, Ini Pesan Ning Umi Laila

17
×

Peringatan Maulid Nabi SD Khadijah Wonorejo, Ini Pesan Ning Umi Laila

Sebarkan artikel ini
SD Khadijah Wonorejo Kabarphatas
Ning Umi Laila saat menyampaikan tausiah pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Di penghujung sambutannya, Abdullah Sani membacakan syair bertajuk “Rindu Rasulullah”. Syair tersebut menggambarkan kerinduan seorang umat kepada Rasulullah meski tidak pernah berjumpa secara langsung.

“Wahai Rasulullah, kami tak pernah berjabat tangan denganmu, namun hati kami begitu merindukanmu,” demikian salah satu penggalan syair yang dibacakan.

Syair itu juga mengingatkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah semestinya tidak berhenti pada ucapan. Cinta tersebut diwujudkan dengan meneladani akhlaknya, menyayangi sesama, menghormati orang tua dan guru, serta berusaha menjalani kehidupan sesuai tuntunan sunah.

Pesan tentang keteladanan kemudian diperkuat Ning Umi Laila dalam tausiyahnya. Ia mengajak para orang tua memahami bahwa anak membutuhkan figur yang dapat dilihat, ditiru, dan dijadikan rujukan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Ning Umi Laila, salah satu alasan pentingnya mencintai Rasulullah adalah karena Nabi Muhammad SAW merupakan teladan utama bagi umat Islam.

SD Khadijah Wonorejo
Kepala SD Khadijah Wonorejo, Dr. HM. Rochman Firdian, SHI. M.Ag., saat sambutan.

Ia mengutip hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak. Karena itu, peringatan Maulid Nabi tidak semestinya berhenti pada seremoni, melainkan menjadi momentum untuk kembali melihat bagaimana akhlak Rasulullah dapat diterapkan dalam kehidupan.

“Anak-anak kita semua ini butuh contoh, butuh figur. Kenapa? Karena dia terbentuk oleh lingkungan,” ujar Ning Umi Laila.

Ia kemudian mengajak orang tua melihat kembali peran lingkungan dalam proses tumbuh kembang anak. Pilihan sekolah, pergaulan, keluarga, hingga lingkungan sosial, kata dia, merupakan bagian dari ekosistem yang ikut membentuk karakter seorang anak.

Orang tua, lanjut Ning Umi Laila, pada dasarnya telah melakukan ikhtiar ketika memilih lembaga pendidikan bagi putra-putrinya. Pilihan itu bukan semata-mata berkaitan dengan kemampuan akademik sekolah, tetapi juga lingkungan yang dapat memberikan pengaruh positif terhadap pembentukan karakter.

“Lingkungan itu harus dipilih. Saya yakin ibu-ibu memilih madrasah, memilih pendidikan itu sudah dengan penuh ikhtiar. Dipilih mana lingkungan yang paling bagus, karena anak-anak akan terpengaruh oleh lingkungannya,” katanya.

Ning Umi Laila juga mengingatkan bahwa anak sering kali lebih cepat meniru apa yang mereka lihat dibandingkan sekadar mengikuti apa yang mereka dengar.

Karena itu, nasihat kepada anak perlu berjalan beriringan dengan keteladanan dari orang dewasa. Orang tua dan guru tidak hanya dituntut menyampaikan nilai-nilai kebaikan, tetapi juga menghadirkan contoh nyata dalam perilaku sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *