Example 728x250
Pendidikan

Cuaca Panas Surabaya Capai 38 Derajat, Pakar UNAIR Soroti Dampak Emosi Warga

6
×

Cuaca Panas Surabaya Capai 38 Derajat, Pakar UNAIR Soroti Dampak Emosi Warga

Sebarkan artikel ini
Pakar Unair Kabarphatas

KABARPHATAS.COM, SURABAYA – Terik matahari yang menyengat dapat menguji kesabaran seseorang, terutama ketika harus beraktivitas di tengah kemacetan dan kepadatan ruang publik.

Di Surabaya dan sekitarnya, suhu udara yang mencapai 37 hingga 38 derajat Celsius tak hanya berdampak pada kenyamanan fisik, tetapi juga berpotensi memengaruhi kestabilan emosi dan komunikasi antarmasyarakat.

Pakar Komunikasi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Suko Widodo Drs MSi, mengingatkan bahwa kondisi tubuh yang tidak nyaman akibat suhu tinggi dapat memengaruhi konsentrasi dan kemampuan seseorang mengendalikan emosi.

Situasi tersebut berisiko memperbesar kemungkinan terjadinya kesalahpahaman dalam interaksi sehari-hari.

Menurut Suko, kelelahan fisik dan dehidrasi yang berkaitan dengan cuaca panas dapat membuat seseorang lebih mudah tersinggung.

Dalam kondisi demikian, komunikasi yang seharusnya berlangsung secara wajar dapat berubah menjadi tegang karena seseorang kesulitan mengendalikan respons emosionalnya.

“Ketidaknyamanan tubuh dapat memengaruhi kondisi emosional, sementara emosi akan menentukan pilihan kata, nada bicara, serta cara kita merespons orang lain. Akibatnya, kesalahpahaman kecil di ruang publik bisa dengan mudah berkembang menjadi pertengkaran,” ujar Suko.

Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur itu menjelaskan, risiko gesekan sosial dapat meningkat di tempat-tempat dengan aktivitas tinggi.

Jalan raya, misalnya, menjadi lingkungan yang rentan memicu ketegangan ketika pengendara harus menghadapi kemacetan, suara klakson, serta panas yang dipantulkan permukaan aspal.

Perpaduan kondisi tersebut dapat menguji kesabaran pengguna jalan. Ketika kelelahan fisik bertemu dengan tekanan situasi di sekitarnya, seseorang berpotensi menunjukkan perilaku lebih agresif dalam merespons gangguan maupun perbedaan dengan orang lain.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tingginya suhu udara di kawasan Jawa Timur dipengaruhi oleh minimnya tutupan awan serta posisi semu matahari. Kondisi panas diprediksi masih berlangsung di sejumlah wilayah.

Suko mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan kondisi tubuh selama cuaca panas, antara lain dengan mencukupi kebutuhan cairan dan beristirahat ketika merasa lelah.

Upaya tersebut perlu disertai kesadaran untuk menjaga kestabilan emosi ketika berinteraksi dengan orang lain.

Menurut dia, pengendalian emosi dan sikap saling memahami tetap diperlukan dalam berbagai lingkungan, termasuk keluarga, kampus, dan tempat kerja. Ketidaknyamanan akibat cuaca sebaiknya tidak menjadi alasan untuk merespons perbedaan pendapat dengan kemarahan.

“Mari kita tingkatkan rasa sabar dan saling pengertian. Di tengah situasi yang melelahkan akibat cuaca ekstrem, tidak semua perbedaan pendapat atau kesalahan kecil harus direspons dengan kemarahan,” pungkas Suko.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *