Example 728x250
Pendidikan

Unusa Wisuda 1.038 Lulusan, Mahasiswa K3 Banyak Sudah Bekerja

12
×

Unusa Wisuda 1.038 Lulusan, Mahasiswa K3 Banyak Sudah Bekerja

Sebarkan artikel ini
Unusa Kabarphatas

Salah satu pengalaman yang cukup menguras tenaga terjadi ketika Anis menjalani PKL selama satu bulan di RS Bhayangkara. Setiap hari, setelah menyelesaikan pekerjaan di puskesmas sekitar pukul 14.30, ia langsung melanjutkan kegiatan PKL di rumah sakit.

“Capek pasti, karena setelah pulang kerja jam setengah tiga, saya langsung lanjut PKL di rumah sakit. Itu berlangsung sekitar satu bulan, jadi memang harus pintar-pintar membagi waktu antara kerja dan kuliah,” ujar perempuan kelahiran 2001 itu.

Bagi Anis, pengalaman bekerja justru membantu ketika menyelesaikan penelitian. Ia dapat menghubungkan pembelajaran selama kuliah dengan kondisi yang ditemuinya di lapangan.

Pengambilan data penelitian juga dilakukan di tempat kerjanya dengan mengikuti prosedur dan perizinan yang berlaku. Sistem perkuliahan yang banyak dilakukan secara online turut membantunya membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikan.

“Untungnya kuliah di UNUSA banyak yang dilakukan secara online, jadi lebih membantu saya dalam membagi waktu. Kalau ada praktik tetap harus datang langsung, tetapi pekerjaan di puskesmas juga bisa saya sesuaikan, termasuk ketika mengambil data untuk penelitian,” jelas Anis.

Melanjutkan pendidikan dari D3 ke jenjang S1, bagi Anis, juga membuka perspektif baru mengenai bidang gizi. Pengetahuan yang diperolehnya selama kuliah kemudian dapat dikaitkan dengan pekerjaannya.

“Setelah kuliah S1 di UNUSA, saya merasa mendapatkan perspektif baru tentang gizi. Jadi bukan hanya ilmu yang saya dapatkan saat D3, tetapi ada pemahaman baru yang kemudian bisa saya terapkan juga di tempat kerja,” tuturnya.

Pada wisuda ke-22, Unusa mewisuda 1.038 mahasiswa. Dari jumlah tersebut, terdapat 14 wisudawan non-Muslim. Sebanyak 11 orang atau 78,6 persen di antaranya meraih predikat lulus dengan sangat memuaskan.

Salah satunya Meylani Fernanda Bessie, wisudawan asal Kupang yang merupakan anak tunggal sekaligus lulusan pertama di keluarganya.

Meylani memilih Unusa karena menyediakan kelas Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), yang memudahkannya melanjutkan pendidikan sambil tetap bekerja. Ia juga merasakan dukungan serta toleransi dari para dosen selama menjalani perkuliahan.

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Meylani terjadi ketika dirinya diminta memimpin doa dengan tata cara agama Kristen Protestan sebelum perkuliahan dimulai.

“Pengalaman saya yang paling mengesankan adalah ketika diminta memimpin doa dengan ajaran agama Kristen Protestan sebelum memulai perkuliahan,” ungkap Meylani.

Pengalaman mengenai lingkungan perkuliahan juga disampaikan Maria Dolorosa Gale. Sebagai anak pertama dari lima bersaudara sekaligus lulusan pertama di keluarganya, Maria memilih Unusa karena status akreditasi Unggul dan kualitas pendidikannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *