Masalahnya, skoliosis tidak selalu mudah dikenali. Sebagian kasus tidak disertai rasa nyeri sehingga perubahan pada tulang belakang bisa tidak disadari oleh anak maupun orang tua.
“Skoliosis kadang tidak terdeteksi dan memang tidak ada keluhan. Karena itu, deteksi dini sangat penting supaya kita bisa melakukan intervensi jika terjadi masalah di kemudian hari,” jelas Erreza.
Menurut dia, skrining pada usia remaja penting karena anak masih berada dalam masa pertumbuhan. Dengan pemantauan yang tepat, tenaga medis dapat menilai kemungkinan skoliosis sekaligus menentukan penanganan berdasarkan kondisi masing-masing pasien.
Kelengkungan tulang belakang yang terus bertambah dapat membuat penanganan menjadi lebih kompleks. Pada kondisi tertentu, otot-otot di sekitar tulang belakang juga harus bekerja lebih keras untuk membantu mempertahankan postur tubuh.
Meski demikian, skoliosis tidak serta-merta berujung pada operasi. Penanganannya bergantung pada derajat kelengkungan, usia pasien, sisa pertumbuhan, dan perkembangan kondisi dari waktu ke waktu.
Dokter dapat merekomendasikan pemantauan berkala, latihan atau fisioterapi sesuai indikasi, penggunaan penyangga tulang belakang atau brace pada kasus tertentu, hingga operasi apabila kelengkungan tergolong berat atau terus berkembang.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapat penjelasan mengenai enam tanda fisik yang patut diperhatikan. Di antaranya, salah satu bahu terlihat lebih tinggi, salah satu tulang belikat lebih menonjol, garis pinggang kanan dan kiri tidak simetris, serta posisi panggul yang tampak miring.

Ketua Komite SMNN1 Surabaya (kanan),
Dr Henriette Agustia Wijayanti, Ketua Panitia Arsha 2026 (kiri) dan dr. Erreza Rahardiansyah, Sp.OT., Subsp. OTB(K).
Tanda lainnya adalah tubuh terlihat condong ke salah satu sisi dan salah satu sisi punggung tampak lebih menonjol ketika anak membungkuk ke depan.
Pemeriksaan dengan membungkukkan badan ke depan dikenal sebagai Adam Forward Bend Test. Metode ini membantu mengenali ketidaksimetrisan punggung yang perlu dievaluasi lebih lanjut.
Pemeriksaan juga dapat melibatkan skoliometer untuk mengukur sudut rotasi batang tubuh. Jika ditemukan indikasi yang memerlukan pemeriksaan lanjutan, dokter dapat menentukan kebutuhan pemeriksaan radiologi untuk mengukur sudut kelengkungan tulang belakang.
Namun, orang tua tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa anak mengalami skoliosis hanya karena bahu atau panggulnya tampak tidak sejajar.
Ketidaksimetrisan postur bukan satu-satunya penentu diagnosis. Pemeriksaan tenaga medis tetap diperlukan untuk memastikan kondisi yang sebenarnya.
Edukasi ARSHA Spensabaya turut membahas anggapan mengenai penggunaan tas berat. Membawa tas berat tidak terbukti sebagai penyebab langsung skoliosis idiopatik. Kendati demikian, beban berlebih tetap berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan pada bahu dan punggung.
Karena itu, perhatian terhadap postur anak perlu diimbangi pemahaman yang benar mengenai penyebab dan penanganan skoliosis.
Pemeriksaan medis menjadi langkah penting ketika ditemukan perubahan tubuh yang mencurigakan, alih-alih hanya mengandalkan pengamatan atau dugaan sendiri.
Orang tua diharapkan lebih peka terhadap perubahan postur anak selama masa pertumbuhan, termasuk kesejajaran bahu dan panggul serta bentuk punggung.
Sementara itu, siswa didorong untuk segera menyampaikan kepada orang tua jika melihat perubahan yang tidak biasa pada tubuhnya.



